Kamis, 29 Juli 2010
Debit Bengawan Solo Mulai Susut

[Minggu, 12 Juli 2009]

Debit Bengawan Solo Mulai Susut
Empat Kabupaten Terancam Kekeringan

BOJONEGORO - Meski musim kemarau baru berjalan sekitar dua bulan, debit air di Bengawan Solo menurun cukup signifikan.

Itu menimbulkan ancaman kekeringan untuk daerah sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Solo.
Di sepanjang kawasan itu terdapat sekitar 11 ribu hektare (ha) areal persawahan. Selain Bojonegoro, kekeringan mengancam tiga kabupaten lain yakni, Tuban, Lamongan, dan Gresik.
Khusus di Bojonegoro, ungkap Koordinator Pengamanan dan Pengendalian Balai Sumber Daya Air Wilayah Sungai Bengawan Solo (BPSDA) Bojonegoro Moeljono kemarin (11/7), kekeringan mengancam areal persawahan di wilayah DAS. Lahan tersebut antara lain tersebar di Kecamatan Ngraho, Margomulyo, Padangan, Purwosari, Kalitidu, Dander, Bojonegoro, Kapas, Balen, Sumberrejo, Kanor, dan Baureno.
Biasanya, kata Moeljono, pada Oktober petani di kecamatan-kecamatan tersebut menanam padi dengan mengandalkan pengairan dari Bengawan Solo. Karena ada ancaman kekeringan itu, dia menyarankan petani tak menanam padi. Sebab, pada bulan tersebut permukaan air Bengawan Solo diperkirakan menurun drastis.
Dia menambahkan, selain dipicu datangnya musim kemarau, menurunnya debit air Bengawan Solo pada Oktober mendatang juga disebabkan sudah dikeluarkannya air di Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, Jawa Tengah, bulan lalu.
Volume air yang diturunkan dari Waduk Gajah Mungkur setinggi 17 sentimeter, setara dengan 90 juta meter kubik dari total kapasitas daya tampung berjumlah 430 juta meter kubik.
’’Ini artinya, jika sampai bulan Juli-Agustus mendatang tidak ada hujan, maka tanaman di sepanjang DAS Solo, Bojonegoro terancam mengalami penurunan produksi, terutama tanaman padi,’’ ujarnya.
Mengantisipasi kemungkinan terburuk dampak musim kemarau, BPSDA di Bojonegoro mengimbau kepada empat pemerintah kabupaten yang dialiri Bengawan Solo, yakni Bojonegoro, Tuban, Lamongan, dan Gresik agar pada Oktober nanti petaninya tidak menanam padi. (rij/jpnn)

 
Banner
Copyright © 2008 PT. Yogyakarta Intermedia Pers. All rights reserved.