Kamis, 09 September 2010

Sport

Indeks » Metropolis » Metropolis


Satu Ekor Rp 500
0.0/5 (0 vote)

Petani Seyegan Gropyokan Tikus
SLEMAN - Masyarakat Seyegan, khususnya di Dusun Barak, Margoluwih gemas lantaran gagal panen. Itu karena tanaman padi seluas 10 hektare rusak dimakan tikus sawah. Salah satu upaya membasmi tikus adalah dengan menggali liang sarang dan menangkap hewan pengerat itu beramai-ramai. Itulah gropyokan tikus.

Gropyokan dilakukan oleh ratusan petani yang dibagi beberapa kelompok. Masing-masing bermodal cangkul dan jaring. Tiap kelompok terdiri dari 5-8 orang. Secara bergantian para petani itu mencari lubang-lubang sarang tikus dan menggalinya dengan cangkul. Sebagian petani lainnya berjaga dengan jaring terbentang. Begitu tikus keluar dari lubang petani berlomba-lomba mengejar dan menangkapnya. Tak urung mereka harus bergelimpangan dengan beceknya tanah sawah.  

Sambil bersendau gurau, ratusan petani itu tampak bersemangat membasmi tikus. Tentu saja, hal itu tidak hanya untuk mengantisipasi musim tanam tahap II akibat gagal panen musim tanam I.

’’Di Barak ada sekitar 60 hektare sawah. Kira-kira 10 hektare di antaranya dirusak tikus dengan kerugian mencapai lebih dari Rp 60 juta. Tikus itu tidak selalu memakan tanaman, tapi lebih sering merusak pangkal batang padi,’’ ungkap Jamasto, kepala Kelompok Tani Sarana Makmur, Dusun Barak, Margoluwih, Seyegan di sela gropyokan tikus, kemarin (28/7).

Selain padi, tikus juga merusak tanaman umbi-umbian. ’’Tikus meraja lela akibat pola tanam yang tidak terpadu dan selalu berpindah-pindah,’’ imbuh Jamasto.

Menurutnya, wilayah Seyegan memang menjadi sarang tikus akibat hamparan sawah yang sangat luas. Sejak tujuh tahun lalu, kata Jamasto, baru kali ini tikus kembali menyerang sawah warga.

’’Sejak dulu memang banyak tikus. Tujuh tahun lalu kami dapat bantuan dari HB X 60 ekor ular. Sejak itu tak ada tikus sampai sekarang,’’ ungkapnya.

Lambat laun, menurut Jamasto, keberadaan ular kian surut lantaran diburu orang. Tikus pun mulai meraja lela kembali. Apalagi perkembangbiakan tikus cukup pesat. Dari beberapa literatur, seekor tikus betina bisa beranak pinak 8-10 ekor tiap sekali melahirkan. Siklusnya hanya dua bulan sekali.

Dibanding pestisida, gropyokan tikus dinilai cukup efektif untuk membasmi tikus. Meskipun langkah yang lebih efisien  adalah dengan sistem pertanian terpadu dengan tanaman palawija. Kendati begitu, untuk merangsang semangat warga membasmi tikus, Dinas Pertanian dan Kehutanan Sleman ternyata telah menganggarkannya. Total dana untuk membasmi hewan pengganggu tahun 2010 sejumlah Rp 43 juta.

’’Agar petani lebih aktif gropyokkan, tiap ekor tikus kami hargai Rp 500. Dananya dari dinas setempat. Ini untuk mengantisipasi serangan tikus sebelum masuk musim tanam,’’ ujar Suharno, petugas pengendali organisme pengganggu tanaman UPT BP3K (Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan) Sleman.

Tikus hasil tangkapan dihitung petani dan dilanjutkan pembuatan berita acara penangkapan oleh kelompok tani yang diteruskan ke Dinas Pertanian setempat. Barulah uang honor tikus bisa cair. ’’Semua dikelola oleh kelompok tani,’’ jelas Suharno.

Camat Seyegan Anggoro Aji Sunaryono berharap, ke depan petani tak hanya giat melakukan gropyokkan tikus, tapi juga melakukan pola tanam terpadu. Yakni padi-padi-palawija. ’’Itu untuk memutus siklus hama. Tak hanya tikus,’’ katanya. (yog)
 
Copyright © 2008 PT. Yogyakarta Intermedia Pers. All rights reserved.