Kamis, 09 September 2010

Sport

Indeks » Metropolis » Metropolis


Beri Masyarakat Informasi Sejarah Sejelas-jelasnya
0.0/5 (0 vote)

Pembangunan Replika Tugu Golong Gilig Direalisasikan Tahun Depan

Wacana revitalisasi bangunan Tugu kembali menguat. Landmark Kota Jogja itu bakal dibuatkan replikanya. Tapi, bentuknya bukan seperti Tugu saat ini.

HERI SUSANTO, Jogja

BENTUK asli Tugu sebelum runtuh akibat gempa bumi 1889 adalah berwujud Golong Gilig. Nah, bentuk asli inilah yang akan dibuatkan replikanya. Nantinya, replika ini diharapkan bisa menjadi media informasi bagi wisatawan.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DIJ Djoko Dwiyanto mengungkapkan, pembangunan replika ini akan direalisasikan pada anggaran 2011. Lokasinya di sebelah tenggara Tugu saat ini atau tepatnya di sekitar pos polisi lalu lintas.

’’Prosesnya saat ini telah sampai pada kajian dan pembebasan lahan. Setelah kedua tahapan tersebut selesai, kami segera memulai pembangunan replika Tugu. Anggarannya tahun depan kami ajukan,’’ kata Djoko, kemarin (26/7).

Diungkapkan Djoko, pembangunan replika Tugu tersebut dilakukan untuk memberikan informasi pada masyarakat. Terutama soal perjalanan Tugu dari tahun ke tahun. Selain itu, akan dijelaskan pula fungsi dan nilai-nilai filosofi Tugu sebagai landmark DIJ.

Ketua Dewan Kebudayaan Kota Jogja Ahmad Charis  Zubair dihubungi terpisah menjelaskan, pembangunan replika tersebut harus diimbangi dengan narasi Tugu. Narasi ini berisi tentang kisah perjalanan Tugu sampai saat ini. ’’Itulah salah satu ilmu pengetahuannya,’’ kata dosen UGM tersebut.

Charis menambahkan, narasi ini harus mengisahkan seluruh perjalanan Tugu dari masa ke masa. Mulai dari tujuan pembangunan Tugu menggambarkan Manunggaling Kawula Gusti, semangat persatuan rakyat dan penguasa melawan penjajahan sampai renovasi terakhir yang dilakukan pemerintah.

Bentuk awal Tugu, kata Charis, sangat berbeda dengan bentuk saat ini. Tugu awalnya berbentuk tiang silinder yang mengerucut ke atas. Bagian dasarnya berupa pagar yang melingkar. Puncaknya berbentuk bulat. Ketinggian bangunan tugu pada awalnya mencapai 25 meter.

Tapi, bangunan tersebut berubah saat terjadi gempa bumi tahun 1889. Usai runtuh akibat gempa dan pandangan lurus Raja Mataram dari pagelaran ke utara terpecah dengan rel di Stasiun Tugu, Belanda merenovasi Tugu. Belanda mengubahnya dengan membuat bentuk persegi. Tiap sisinya dihiasi semacam prasasti yang menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam renovasi itu.

Perubahan juga terjadi pada puncak Tugu yang tak lagi bulat. Bentuknya berubah menjadi kerucut dan runcing. Belanda yang berusaha memecah persatuan rakyat dengan rajanya juga mengubah ketinggian bangunan dengan memperpendek 15 meter atau 10 meter lebih rendah dari bangunan semula. Sejak saat itu, tugu ini disebut juga sebagai De Witt Paal atau Tugu Pal Putih.

Perubahan-perubahan inilah yang menurut Charis harus dijelaskan kepada masyarakat. Biar mereka tahu akan nilai filosofi historis bangunan Tugu. ’’Tidak hanya sebagai landmark  yang berfungi mengabadikan gambar jika pernah di Jogja,’’ tandasnya.

Di lain pihak, aktivis LSM Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (Madya) Johanes Marbun meminta pemerintah melakukan perencanaan lebih matang sebelum membangun replika Tugu. Ini agar proses pembangunannya tidak membingungkan masyarakat.

’’Sekali dibangun ya sudah itu bentukya. Jangan sampai berubah-ubah karena nanti masyarakat yang bingung,’’ tandas Marbun.

Marbun berharap, pembangunan replika ini nanti dapat berjalan sesuai tujuannya. Terutama untuk memberikan ilmu pengetahuan kepada masyarakat luas. ’’Masyarakat harus dilibatkan dalam proses pembangunan replika ini nanti,’’ pintanya. ***

 
Copyright © 2008 PT. Yogyakarta Intermedia Pers. All rights reserved.