|
Kekuatan Tradisional Sulit Terpental Gong kompetisi Ligue 1 atau Liga Prancis musim 2010–2011 akan ditabuh pada 7 Agustus 2010. Seperti sebelumnya, kompetisi musim ini menjanjikan persaingan yang tak kalah sengit. Siapa yang pantas diunggulkan?
LIGUE 1 Prancis memang kalah glamor jika dibandingkan dengan Liga Primera Spanyol atau Premier League Inggris. Tapi, dari gambaran perburuan gelar musim lalu, Ligue 1 sebetulnya jauh lebih kompetitif. Bahkan, juara Ligue 1 dalam tiga musim terakhir adalah tiga tim yang berbeda. Bandingkan dengan Liga Primera Spanyol yang terlalu didominasi dua kekuatan, Real Madrid dan Barcelona, serta Premier League Inggris yang seolah hanya dimiliki the big four. Sementara itu, takhta di Italia praktis hanya menjadi milik Inter Milan. Lalu, bagaimana prediksi persaingan Ligue 1 musim ini? Sejumlah pengamat menilai, persaingan di Zona Eropa alias lima besar bakal makin sengit. Namun, perebutan posisi puncak tetap akan didominasi kekuatan tradisional. Terutama, Olympique Marseille dan Olympique Lyon. Ya, dua raksasa Prancis itu punya kans terbesar untuk kembali bersinar musim ini. Penyebabnya bukan hanya status mereka sebagai juara bertahan dan runner-up, tapi juga gelagat yang ditunjukkan selama transfer window musim panas ini. Lyon lebih aktif berburu pemain baru, sedangkan Marseille bersikeras memastikan bintang-bintang musim lalu tidak hengkang. Sejauh ini, Lyon telah mendapatkan defender John Mensah dan gelandang Jeremy Pied yang baru kembali setelah dipinjamkan. Juga, striker Jimmy Briand yang dibeli dari Rennes seharga 6 juta euro (sekitar Rp 69,7 miliar). Namun, mereka pun mengalami kehilangan yang cukup besar. Lyon harus melepas striker Sidney Govou karena kontraknya habis musim lalu. Meski begitu, pelatih Claude Puel optimistis timnya masih perkasa tanpa penyerang timnas Prancis itu. ”Tujuan utama kami musim depan adalah merebut gelar. Itu target mutlak,” tegas Puel seperti dikutip situs resmi Le Championnat. ”Target itulah yang mendorong kami selalu bersemangat menjalani kompetisi. Apalagi, dengan menjadi juara, kami bisa lolos langsung ke babak utama Liga Champions,” imbuhnya. ”Memang kami kehilangan pemain penting (Govou, Red). Tapi, skuad yang tersisa masih sangat bagus. Saya bisa menangkap motivasi tinggi mengejar gelar dari pemain muda seperti Hugo (Lloris, kiper Lyon, Red) dan lainnya. Mereka datang untuk menang. Dua tahun tanpa trofi terasa terlalu lama,” papar Puel. Di sisi lain, Girondins Bordeaux, tampaknya, harus dicoret dari peta persaingan perebutan juara musim ini. Sebab, kekuatan mereka sudah jauh tereduksi, apalagi jika dibandingkan dengan dua musim lalu, saat klub berjuluk Les Girondins tersebut menjuarai liga. Selama bursa transfer saja, mereka sudah kehilangan bomber utama Marouane Chamakh yang hengkang ke Arsenal. Selain itu, Alou Diarra dkk ditinggal sang pelatih, Laurent Blanc, yang ditunjuk sebagai arsitek timnas Prancis. Sejumlah bintangnya pun tidak aman karena terus dirayu klub-klub besar. Kedatangan Jean Tigana sebagai pelatih anyar belum menjamin Bordeaux kembali menjadi klub yang ditakuti. ”Saat ini hanya ada dua tim besar di Ligue 1, yakni Lyon dan Marseille,” tutur Fernando Menegazzo, gelandang Bordeaux asal Brazil, seperti dikutip Goal. ”Tapi, kedatangan Tigana telah mengembalikan kepercayaan diri tim. Dia membawa filosofi baru yang saya harap cocok dengan tim,” lanjutnya. Absennya Bordeaux dari kompetisi Eropa musim ini juga menjadi berkah tersendiri. ”Musim lalu, kami membuat kesalahan dengan terlalu berkonsentrasi ke Liga Champions. Akibatnya, kami hancur di kompetisi domestik. Nah, musim ini kami bisa berkonsentrasi ke Ligue 1,” tegas Menegazzo. Bicara soal Liga Champions, musim lalu Ligue 1 membuat kejutan dengan mengirim dua wakil ke perempat final, yakni Lyon dan Bordeaux. Lyon bahkan melaju hingga babak empat besar sebelum dikandaskan oleh Bayern Munchen. Namun, prestasi tersebut agaknya sulit diulang. Alasannya sederhana. Ketika kekuatan klub-klub Ligue 1 tereduksi krisis ekonomi, lawan dari luar justru makin kuat dan solid. Klub-klub Spanyol dan Inggris diprediksi mendominasi babak knockout Liga Champions maupun Europa League musim depan. (na/c11/bas) |