|
Kantor KPU DiSerbu Massa, Satu Terluka BANTUL – Suasana menegangkan terjadi KPUD Bantul. Ketegangan itu dipicu ulah pendukung salah satu pasangan cabup-cawabup yang merasa tidak terima atas hasil penghitungan pilbup yang mendatangi kantor KPU. Merasa tidak ada tanggapan, massa mulai beringas dan menerobos barisan polisi yang menghalau massa.
Beberapa menit kemudian, perwakilan massa dipersilahkan masuk ke KPU untuk bernegosiasi. Negosiasi pun berjalan alot karena perwakilan massa meminta KPU untuk menggelar pilbup ulang. Permintaan ditolak, perwakilan massa lantas membanting kursi dan meja KPU. Akibat peristiwa itu, massa semakin beringas dan bentrok dengan aparat keamanan dari Dalmas dan Sat Brimop Polda DIJ. dalam insiden tersebut satu orang pendemo terluka dan harus mendapat perawatan intensif dari petugas kesehatan. Demikian suasana simulasi pengamanan pilbup Bantul yang digelar Polres Bantul di depan mapolres Bantul, tepatnya di jalan Panglima Soedirman Bantul depan Gedung DPRD Bantul, (3/5) kemarin. Kapolres Bantul AKBP Stephen M Napiun mengatakan simulasi pengamanan pilbup ini dilakukan untuk mengantisipasi sesuatu yang tidak diinginkan. Misalnya, bila ada ketidakpuasan dari massa pendukung salah satu cabup-cawabup yang menginginkan adanya pilbup ulang atau sesuatu yang lainnya dapat mengganggu jalannya pilbup di Bantul. “Meski hingga saat ini potensi konflik pilbup di Bantul dalam kondisi kondusif. Tapi, antisipasi terhadap tindak anarkis saat pemilukada tetap harus dipersiapkan oleh aparat keamanan,” kata Stephen kepada wartawan disela-sela simulasi pengamanan pilbup Bantul, (3/4) kemarin. Untuk mengamankan tahapan pilbup Bantul, lanjut Stephen, kepolisian akan melakukan keamanan sesuai dengan prosedur, tindakan persuasif dan tindakan tegas bagi massa pendukung mana pun. Tindakan professional ini sesuai dengan intensitas yang muncul saat terjadinya ketidakpuasan terhadap hasil pilbup. Ketika disinggung titik rawan terjadinya konflik? Stephen menjelaskan masa kampanye terbuka pada 6 Mei hingga 19 Mei mendatang pihaknya telah melakukan mengantisipasi. Namun untuk beberapa titik rawan pihaknya tidak bisa membuka ke publik. “Kalau saya ungkapkan sekarang justru akan membuat masyarakat resah. Lebih baik titik rawan untuk konsumsi kita saja.. Yang jelas kita sudah siap mengantisipasi titik-titik yang rawan konflik sosial saat pemilukada mendatang,” terang Stephen. (mar) |