Kamis, 09 September 2010
HB X Singgung Dinasti Politik, Idham Sebut Kecelakaan
Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}

Sri Suryawidati, Bupati Perempuan Pertama di DIJ

BANTUL - Terpilihnya Hj Sri Suryawidati menggantikan suaminya, Drs H Idham Samawi, sebagai bupati Bantul ternyata merupakan sebuah kecelakaan. Pernyataan itu disampaikan Idham Samawi usai pelantikan bupati terpilih di Pendopo Parasamya siang kemarin (27/7).

Di depan puluhan wartawan yang mewawancarainya, Idham menegaskan, terpilihnya sang istri bukan keinginan dirinya untuk melanggengkan kekuasaan. ‘’Terpilihnya istri saya sebagai bupati Bantul itu sebuah kecelakaan. Bukan karena dia perempuan, bukan juga karena saya ingin melanggengkan kekuasaan. Itu karena ada desakan dari warga Bantul terhadap istri saya,” kata Idham.

Kalau ada yang menduga dirinya ingin membangun dinasti politik, Idham menegaskan itu hanya ada pada pihak yang tidak tahu. Dia mengaku bahwa malam sebelum pelantikan Idham sempat sakit karena merasa nervous.

‘’Justru karena dia istri saya, maka saya menjadi nervous. Semalam saya diare, yang mungkin efek dari itu. Saya tegaskan bahwa saya tidak ingin melanggengkan kekuasaan,” tandas  Idham.

Sebelumnya, Gubernur DIJ Hamengku Buwono X juga berbicara soal dinasti politik dalam sambutannya usai mengambil sumpah dan janji serta melantik pasangan Hj Sri Suryawidati-Drs H Sumarno PRS sebagai Bupati -Wakil Bupati Bantul periode 2010-2015.

Dalam sambutannya, gubernur mengatakan dalam budaya Jawa garis kekuasaan tidak cukup hanya atas dasar kelangsungan darah belaka, melainkan masih diperlukan syarat rumasuknya “wahyu” sebagai bukti lulusnya “laku “. “Dalam bahasa demokrasi adanya keabsahan legalitas hukum dan dukungan legitimasi rakyat yang membedakan antara politik dinasti dengan gejala dinasti politik,” kata HB X.

Tidak jelas, apakah statemen HB X ini dimaksudkan untuk proses pergantian bupati Bantul atau untuk suksesi gubernur maupun raja di Keraton Jogja. HB X kemudian mencontohkan tokoh Jhon F kennedy dan Indira Gandhi untuk menjelaskan dinasti politik yang dimaksud.

   ‘’Latar belakang keluarga dan status sosial tidak merupakan tiket paling menentukan untuk kemunculan mereka. Kapabilitas pribadi, akseptabilitas dan persetujuan warga negaralah yang paling menentukan. Sehingga figure dari keluarga Kennedi maupun Gandhi pun mesti harus mengalami ujian-ujian sebelum muncul,” kata HB X dalam sambutannya.

Untuk itulah, HB X berharap dengan proses pilkada secara langsung akan mampu menjawab keraguan sebagian masyarakat untuk membawa menuju tangga kemajuan. Pilkada langsung, menurut HB X, juga akan menghasilkan kepala daerah yang memiliki legitimasi kuat dan akuntabilitas publik.

   Terhadap bupati dan wakil bupati terpilih, gubernur berharap mereka segera men-file ulang janji-janji politik saat kampanye. Langkah tersebut penting dilakukan agar ke depan masyarakat lebih percaya terhadap bentuk pemilihan langsung. “Tidak menutup kemungkinan, program-program positif yang diusung oleh kandidat lain juga bisa diterapkan demi kepentingan publik,” kata HB X.

Atas terpilihnya Hj Sri Suryawidati menggantikan Idham Samawi, Gubernur juga memberikan apresiasi lebih. Pasalnya, Sri Suryawidati adalah bupati wanita pertama di DIJ. Dengan demikian, gubernur berharap kebijakan pengarusutamaan gender dalam pembangunan akan memperoleh momentumnya. “Konsep kesetaraan ke arah keberdayaan perempuan dari sekadar pendamping pria harus direkonstruksi,” kata gubernur.

Usai Dilantik, Bupati-Wabup Dinaikkan Gerobak

Wabup Drs H Sumarno PRS mengaku tersiksa selama acara pelantikan. Acara sidang paripurna yang cukup panjang ditambah acara seremonial dirasakan semakin menyiksa dirinya.

Untuk itu ketika acara ditutup dengan pemberian selamat kepada bupati dan wabup terpilih, Soemarno memilih meninggalkan acara dan duduk di kursi tamu undangan sambil menyaksikan acara pemberian selamat dilanjutkan.

Ternyata, Soemarno merasa tidak nyaman dengan sepatu yang diakenakan. ‘’Wah, ini saya mengenakan pakaian kebesaran, tapi sepatu saya kekecilan. Kaki saya sakit sekali dan sudah ngampet,” kata Sumarno yang kemudian melepaskan sepatu yang dia kenakan.

Setelah melepas sepatunya, Sumarno tampak lega sambil menjulurkan kakinya. “Lega rasanya. Tapi sepatu ini asli produk Bantul lho, lihat bahkan lebel ukurannya masih menempel,” kata Sumarno sambil berkelakar.

   Usai acara pelantikan, bupati dan wakil bupati ini sudah ditunggu  Satgas PDI Perjuangan dan sejumlah elemen masyarakat. Mereka ingin memboyong pasangan Hj Sri Suryawidati dan Drs Sumarno PRS  ke rumah dinas bupati dengan menggunakan dua pedati alias gerobak.

Hj Sri Suryawidati dan suaminya yang juga bupati yang dia gantikan duduk di gerobak pertama. Sedangkan Sumarno dan istrinya duduk di gerobak kedua dan diiringi pasukan drumband serta dikawal puluhan anggota Satgas PDIP.

Pelantikan Hj Sri Suryawawidati dan Drs Sumarno sendiri dilakukan dalam sidang paripurna istimewa DPRD Bantul yang dipimpin ketua dewan Tustiyani SH. Setelah membuka sidang dan membacakan agenda persidangan, Tustiyani kemudian menyerahkan acara kepada protokoler untuk pengambilan sumpah dan pelantikan.

Acara pelantikan diawali dengan pembacaan SK Mendagri oleh Setwan DPRD Bantul Suarman SW, SH. Dalam SK itu, intinya pemberhentian dengan hormat Bupati Drs H Idham Samawi dan Wabup Drs Sumarno PRS serta pengangkatan pasangan Hj Sri Suryawaidati-Drs Sumarno PRS sebagai bupati-wakil bupati Bantul periode 2010-2015.

   Usai pembacaan SK, acara dilanjutkan dengan pengambulan sumpah dan janji oleh Gubernur DIJ Hamengku Buwono X atas nama presiden. Setelah diambil sumpah dan janji, gubernur juga mengucapkan kata-kata pelantikan terhadap bupati perempuan pertama di DIJ ini.

Sedikitnya dua ribu tamu undangan tampak memadati gedung Pendopo Parasamya Pemkab Bantul. Salah satu tamu istimewa dalam acara tersebut adalah Drs Sukardiyono, mantan Asek II Pemkab Bantul yang sekaligus kandidat calon bupati Bantul yang maju dalam pilkada lalu.

Banyak pihak yang memberikan apresiasi positif atas kesediaan Drs Sukardiyono dalam acara pelantikan ini. ‘’Beliau telah menunjukkan kedewasaan berpolitik. Meskipun kalah, dia tetap bersedia menghadiri pelantikan kandidat pesaingnya. Itu patut untuk ditauladani,” kata Amir Syarifudin, anggota FPKS DPRD Bantul.

            Sementara kepada wartawan, Sukardiyono yang saat maju dalam pilkada berpasangan dengan Darmawan Manaf berharap ke depan Bantul bisa lebih menjunjung asas demokrasi. Dia juga berharap dalam penataan pejabat tidak ada like and dislike usai pilkada lalu. (ufi)
 
Banner
Copyright © 2008 PT. Yogyakarta Intermedia Pers. All rights reserved.