|
80 Persen Televisi Harus Mati JOGJA- Sineas dan Budayawan Garin Nugroho dengan tegas menyatakan 80 persen televisi nasional harus mati atau tidak lagi beroperasi. Kebanyakan televisi saat ini tidak memiliki etika komunikasi yang baik dan mencerdaskan. Informasi yang ditampilkan instan, seragam, dan serba cepat. Cepat tumbuh, namun cepat pula hancur.
Saat menjadi pembicara dalam Milad Jurusan Komunikasi UII di Hotel Quality kemarin (26/5), Garin memaparkan orasi berjudul Meruwat Budaya Komunikasi, Membangun Karakter Bangsa. Indonesia adalah negeri yang kaya akan keragaman budaya dan karakter. Televisi, dengan segenap tayangan hiburan dan sinetronnya, mengeliminasi keragaman budaya dan menjadikan tayangan menjadi serupa. “Harusnya kita bangga pada keragaman karakter yang kita punya. Tapi tayangan di televisi malah menyeragamkan semua karakter kita,” ujarnya. Misalnya tayangan kompetisi menyanyi. Semua keluarga kontestan harus tampil seragam. “Nari-nari sambil bawa poster. Semua disetting begitu. Apa harus tampil begitu? Kakek-kakek yang tidak pernah joget di depan umum terpaksa joget sebagai bentuk dukungan terhadap cucu. Padahal itu bukan budayanya,” papar sutradara Opera Jawa ini. Penyeragaman dalam fisik dan tayangan yang mengumbar kemewahan, lanjut Garin, menunjukkan tidak adanya kedewasaan dalam komunikasi dari televisi nasional kepada penontonnya. “Anak-anak kita warisan komunikasinya terbatas. Karena yang disuguhkan televisi juga begitu-begitu saja,” terangnya. Garin mengingatkan efek dari tayangan televisi tidak sederhana. Efeknya banyak dan berpotensi menciptakan masyarakat yang menyepelekan komunikasi tayangan televisi. Masyarakat yang cenderung menyelepelekan, pada akhirnya akan juga disepelekan. “Tayangannya tidak bermutu. Sinetronnya tidak bisa diambil sisi positifnya. Masyarakat jadi menganggap sepele tayangan televisi kita. Pada akhirnya, kita akan disepelekan oleh bangsa lain karena tidak bisa menghargai televisi kita,” jelasnya. Menurut Garin, masyarakat Indonesia perlu menghijrahkan pola pikir komunikasi berbudaya. “Tayangan kita tolong dibenahi. Sekarang ini, bahkan tayangan lawak sudah tidak menghibur. Masak ngelawak pukul-pukulan,” ujarnya. Indonesia juga bisa mencontoh dari Thailand. Di negara itu, meski globalisasi dan tayangan hiburan juga membanjir, produksi film lokal masih bisa berkreasi tanpa terseret arus. Di festival film internasional, Thailand bahkan menang lewat film horor. “Thailand menang lewat film horor. Sementara horor Indonesia? Sama sekali tidak mendidik. Jauh dari penggambaran karakter bangsa,” tegasnya. (luf) |