Kamis, 09 September 2010
Hidup di Jolotundo, Kerbau Bule Dipercaya Bisa Sembuhkan Penyakit

Hidup di Jolotundo, Kerbau Bule Dipercaya Bisa Sembuhkan Penyakit

PURWOREJO-Keberadaan kerbau putih kini sudah sangat jarang bisa ditemukan. Selama ini kita hanya bisa melihat kerbau putih di Mangkunegaran (Surakarta), khususnya pada perayaan Suro. Terlepas dari unusr magis yang melingkupinya, populasi kerbau putih yang langka cukup memunculkan berbagai persepsi dan penilaian di masyarakat. 

Namun di Dusun Jolotundo, kerbau bule milik Marno Setyo Utomo, 40, warga Jolotundo, Desa Kemanukan, RT 02 RW 05, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo ini tidak lebih sebagai hewan yang biasa membantu sang pemiliknya. 

Digunakan untuk mengolah sawah, kerbau putih di Jolotundo mendapat perlakuan biasa, selain mendapat makan yang juga sama (rumput), layaknya kerbau hitam pada umumnya.

Marno yang juga kepal dusun (Kadus) Dusun Jolotundo mengatakan, kerbau miliknya memiliki anggota bandan serba putih itu sebelumnya dipelihara oleh kakeknya sedniri (Reti Suwito). Induknya berwarna hitam, dibeli dari Kutowinangun, Kabupaten Kebumen sudah dalam kondisi mengandung. 

"Setelah dibawa ke Jolotundo dan melahirkan ternyata anaknya berwarna putih. Kini induknya masih ada sudah, dan sudah beranak lagi dua kerbau, namun warnanya hitam," kata Marno.

Lebih lanjut Marno menjelaskan, oleh kakeknya kerbau sempat dijual kepada orang Semarang. Namun selang 15 hari setelah dibeli, kerbau putih berhasil ditebus kembali tepat beberapa saat sebelum disembelih.

Niat penebusan kerbau putih didasari dengan petunjuk aneh yang datang dalam mimpi Marno, sambung Marno, menurutnya mimpi aneh itu meminta supaya kerbau putih itu dikembalikan ke Jolotundo. Dalam mimpi itu, kerbau sempat bicara kepada Marno, 

"Dalam bahasa Indonesi kurang lebih berbunyi begini jika saya dan warga mau selamat saya minta dicari dimanapun dan belilah dengan harga berapapun, dengan syarat punya KTP alam di Jolotundo yaitu lemah batirnya. Agar tidak mengandung musrik, lafalkanlah dzikir disetiap denyut jantung saat melihat saya yang kini memiliki nama Kyai Kanjeng Panjer Sukmo," ujar Marno.

Kakek Marno, Reti Suwito menambahkan, kerbau putih miliknya lahir tepat pada hari Rabu Wage (hitungan Jawa) sekitar pukul 03.00 dini hari. Beberapa kali sempat didatangi orang yang berniat berobat, kerbau putih itu juga sempat menunjukkan tingkah yang dinilai aneh.. Kerbau suka menjilat orang yang memiliki penyakit.

"Iya! kalau tidak punya penhakit mau tangannya didekatkan ke mulutnya tidak akan mau menjilat. Selain itu jika dipinjam orang untuk mengolah sawah, dia akan jalan sendiri ke rumah yang mau meminjamnya meski belum pernah datang kerumahnya sekalipun," tutur Reti.

Beberapa orang yang menderita sakit ayan (epilepsi) juga sempat datang berobat setelah kerbau ini berhasil ditebus dari Semarang. "Awalnya saya sendiri bingung ketika mereka datang dengan alasan berobat. Ternyata dia cuma ingin bertemu kerbau dan meminta bulu di telinga untuk obat, kabarnya mereka juga benar-benar sembuh," imbuh Tri Mulyani, 37, (Istri Marno) sembari memberi makan kerbau.

Meski memiliki beberapa keanehan, lanjut Tri, kerbau putih (Kyai Kanjeng Panjer Sukmo) tetap diperlakukan seperti kerbau pada umumnya. Makan rumput tiga kali dalam sehari, kerbau juga suka berendam di air sungai dan ditunggu oleh pemiliknya.

 

Kerbau Putih milik keluarga Marno ini kini tumbuh sehat dan gemuk. Setelah sempat dibeli orang dan berujung mimpi aneh, pihak keluarga Marno sepakat tidak akan menjual kembali kerbau putih ini dengan harga berapapun, dan berniat akan memelihara kerbau putih ini sampai akhir hayatnya. (tom) 

 
Banner
Copyright © 2008 PT. Yogyakarta Intermedia Pers. All rights reserved.