Jumat, 30 Juli 2010
Menengok Pulau Sebatik yang Diwacanakan Menjadi Kota Administratif

Menengok Pulau Sebatik yang Diwacanakan Menjadi Kota Administratif

Dulu, bagi orang-orang yang tinggal di Nunukan, Tarakan, Kaltim, atau Tanjung Selor, menyebut Pulau Sebatik selalu identik dengan Sungai Nyamuk. Pada tahun 1990-an, hampir tak ada yang menarik dari kawasan tersebut. Jarang sekali orang datang ke sana. Apalagi Pulau Sebatik juga bukan pintu masuk Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

Tapi kini Sebatik sudah berubah. Ketika wartawan Koran ini tiba di Sungai Nyamuk, jalan yang dulu belum diaspal, sudah mulus. Menurut Kepala Bappeda Kaltim Rusmadi, pengaspalan menggunakan dana APBN secara bertahap. Lebar jalan pun cukup mumpuni untuk menjadi kota administratif, yaitu mencapai 12 meter.
    Sebagian jalan di kota sudah diaspal, meski pada beberapa ruas jalan masih agregat. Tapi secara umum dibandingkan 2004 lalu, sudah ada perubahan besar. Kini orang Sebatik sudah mulai bisa bangga menjadi orang Indonesia karena perubahan itu.
    Masuk ke kota, ternyata sudah disambut satu kompleks pertokoan milik H Herman. Pedagang yang kini disebut-sebut orang terkaya di Sebatik itu, tak menjual unit ruko pada kompleks tersebut. Ruko lantai satu bisa disewa Rp 15 juta setahun, lantai dua mencapai Rp 30 juta setahun.
    Sang pedagang kaya itu juga memiliki satu hotel, termasuk ratusan hektare lahan kelapa sawit. Pada sejumlah ruas jalan, juga terdapat deretan ruko milik Herman, juga tak dijual. Nah, kompleks ruko itu selama ini menjadi pusat keramaian warga Sebatik. Deretan warung makan, penjual pakaian hingga pedagang telepon seluler, menempati puluhan unit ruko.
    Sejak dulu Pulau Sebatik, menjadi kawasan perdagangan. Hampir 80 persen penduduk yang mendiami kawasan tersebut adalah suku Bugis. Ketika peristiwa Ganyang Malaysia yang didengungkan Presiden Soekarno, wilayah ini menjadi kawasan penting bagi persiapan masuk ke Tawau (Malaysia) ketika perang akhirnya terjadi.
    Tak ada yang berbeda dengan Sebatik dibandingkan kepulauan lainnya di kesatuan Indonesia, hanya saja di sini orang bisa dengan bebas pergi ke negeri tetangga tanpa paspor atau pas lintas batas. Kenapa? Karena Pulau Sebatik berbatasan langsung dengan Malaysia. Mulai kawasan sawah harus dibagi dua, karena sebelahnya bukan wilayah teritorial Indonesia.
    Ada pula sungai yang ternyata masuk wilayah Malaysia. Tapi jangan bayangkan hidup berbatasan itu harus menggunakan paspor atau pas lintas batas. Sebut saja di Desa Aji Kuning, ratusan rumah bisa berada di wilayah Malaysia tanpa izin khusus dari pemerintah Malaysia.
    Pulau Sebatik dibagi dua, yakni sebelah utara seluas 187,23 kilometer persegi masuk Malaysia. Lalu bagian selatan masuk wilayah Indonesia 246,61 kilometer persegi. Ada satu gapura yang memperlihatkan tapal batas kedua negara di Desa Sungai Aji Kucing tersebut. Prasasti itu dari keramik hitam, dibuat oleh peserta lokakarya Bhineka Tunggal Ika. 
Seorang warga Indonesia, Ny Hasidah, 50, yang tinggal di Desa Aji Kuning, rumahnya langsung berbatasan dengan Negeri Jiran. Bagian ruang tamu, kamar tidur berada di wilayah Indonesia, sedangkan dapur dan kamar mandi berada di Malaysia. Alhasil, Hasidah setiap harinya memasak di Malaysia.
”Ini rumah sewaan. Sebulan kami membayar 50 ringgit atau setara Rp 140 ribu. Biasa saja. Tak ada perbedaan. Apalagi ini sudah kami lakukan bertahun-tahun. Tetangga juga begitu, tak ada perasaan khusus. Saya juga tetap cinta Indonesia,” ungkapnya.
    Nah, di belakang Sungai Aji Kuning itu ada Pangkalan Selo yang menjadi tempat penjualan hasil bumi Sebatik ke Malaysia. Termasuk mendatangkan barang-barang dari Malaysia ke Indonesia. Setiap harinya pangkalan itu digunakan banyak pedagang penjual hasil pertanian dan perkebunan. Tak ada biaya apa pun, hanya kesadaran memberikan dana untuk perbaikan dermaga.
    Menggunakan sepeda motor, wartawan Kaltim Post sempat keliling kota bersama Kepala Unit PDAM Sebatik Suliyanto. ”Kota ini sudah berkembang pesat. Tahun 1987 ketika kali pertama datang ke sini, sebagian besar wilayah masih hutan. Tak ada hasil bumi yang bisa dibanggakan selain kakao. Itupun kakao belum bisa dibanggakan. Orang Sebatik kebanyakan masih mendatangkan kebutuhan sehari-hari dari Tawau. Tapi kini, semuanya telah berbalik, kini hasil bumi sudah menjadi sumber pendapatan orang Sebatik karena semuanya dijual ke Tawau dengan harga menggiurkan,” ujar Suliyanto.
    Perkembangan Sebatik lainnya adalah, sudah ada dermaga besar yang dibangun sebagai pusat perdagangan, namanya Pelabuhan Dephan. Entah berapa besar dana yang digelontorkan, tapi pelabuhan itu terlihat begitu megah. Pada sisi kiri pelabuhan, terlihat tumpukan kapal kayu yang sudah tak terpakai, dulu milik pedagang Indonesia yang biasa berdagang ke Tawau.
    Selain tiga hotel besar untuk ukuran warga Sebatik (kelas melati), kini pulau itu juga punya tiga tempat hiburan. Lengkap dengan pramunikmat teman minum. Mereka ini menjadi hiburan bagi pedagang menengah ke bawah, termasuk untuk menjamu tamu. Tempat hiburan itu setiap malam ramai. Setiap tempat hiburan, bahkan punya hingga 20 orang pramunikmat yang didatangkan dari Jawa hingga Sulawesi Utara. (jpnn/end)

 
Banner
Copyright © 2008 PT. Yogyakarta Intermedia Pers. All rights reserved.