Titiek Puspa Tampak Lebih Segar setelah Terapi Kanker RahimBerpikir Akan Berakhir, Bobot Malah Naik 11 KgBerpikir Akan Meninggal, Bobot Malah Naik 11 Kg
Pernah merasa hidupnya akan berakhir, Titiek Puspa kini bangkit. Tubuhnya malah lebih gemuk daripada sebelum divonis terkena kanker. Kemarin (19/1) penyanyi senior itu berbagi cerita soal pengalaman selama menjalani pengobatan di Singapura. Seperti apa?
SUGENG SULAKSONO, Jakarta Wisma Puspa di Jalan Perdatam, Pancoran, Jakarta Selatan, kemarin sore (19/1) mendadak penuh sesak. Deretan mobil dan motor terparkir sampai meluber ke pinggir jalan dan mengakibatkan sedikit kemacetan.
Di tempat yang terbagi menjadi tiga bangunan besar itu, ada acara sederhana. Sang pemilik tempat sekaligus penyanyi terkenal Titiek Puspa menggelar syukuran. Wajah perempuan yang juga memiliki nama Sumarti alias Sudarwati tersebut semringah dan cerah, secerah pakaian warna-warni yang membalutnya.
Tidak terlihat tanda bahwa dia baru saja berjuang keras melawan kanker rahim stadium dua. Ibu kandung Petty Tunjungsari Murdargo, 48, dan Ella Puspasari Kamarullah, 47, itu pada 7 Januari lalu tiba di Jakarta setelah menjalani paket penyembuhan di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, sejak 13 Desember 2009.
Penampilannya sedikit berbeda dengan biasanya. Tubuhnya lebih subur jika dibandingkan dengan sebelum divonis sakit, lalu berobat. ”Naik sebelas kilogram! Banyak makan saya di sana,” ungkap Titiek yang kini berbobot 77 kilogram tersebut.
Menurut perempuan 73 tahun itu, selama berada di Singapura, aktivitasnya hanya dua. Lima hari kerja, mulai Senin sampai Jumat, bolak-balik ke rumah sakit. ”Sabtu dan Minggu teler, kecapekan. Susah mau jalan-jalan,” terang Titiek yang selama berada di Singapura tinggal di apartemen milik Ibnu Sutowo itu.
Di Singapura, Titiek sudah menjalani empat kali tahap kemoterapi dan 28 kali radiasi beserta proses penunjang lain. ”Setelah yang kedua, yang ketiga mulai dari pusar ke bawah. Itu sakit semua. Yang sakit adalah segala penyakit yang diperbaiki. Energi kita berjalan, membetulkan yang tidak benar,” tutur Titiek berusaha menjelaskan proses yang dijalaninya.
Saat menjalani kemoterapi kedua, Titiek menyatakan hampir putus asa. Sakit luar biasa sampai menangis dan minta digendong. ”Saya kira mau finito (finis, Red). Tapi, habis itu, sudah biasa,” ungkap perempuan kelahiran Kalimantan Selatan pada 1 November 1937 tersebut.
Pikiran akan meninggal muncul setelah dia mengingat perjalanan hidup. Panggung musik saja, menurut dia, sudah 55 tahun dilalui. Belum lagi jika ingat usia. ”Jadi, mungkin habis sakit itu, ’habis’. Nggak tahunya, dalam sakit itu, malah dikasih lagi. Itu, 60 sekian lagu,” paparnya.
Sepanjang menjalani pengobatan, Titiek memang secara spontan menciptakan sekitar 60 lagu dalam bentuk notasi. Empat lagu di antaranya bahkan sudah dilengkapi syair. ”Jadi, saya malah merasa baru dibangunin oleh Tuhan, alam, ’Kamu jangan tidur saja. Ayo, bangun! Okay,” papar Titiek yang kali terakhir membuat lagu berjudul Terima Kasih Tuhan saat berulang tahun ke-70.
Membuat 60 lagu dalam waktu sesingkat itu akhirnya menjadi rekor tersendiri bagi Titiek. ”Waktu itu, sebelum sakit, sebetulnya mau bikin konser 55 tahun di atas panggung. Tapi, kena (kanker, Red) itu, terus diundur. Disuruh sakit dulu. Mungkin nanti jadi 56 tahun saja deh atau 57 tahun di atas panggung,” ucapnya.
Meski memikirkan yang paling parah, dia sebenarnya tidak pernah putus asa. Dia menuturkan tetap harus berjuang untuk sembuh. ”Putus asa sih nggak. Cuma, saya katakan, ya sudah. Umur segini, apa boleh buat? Saya sudah mengatakan pasrah kepada Tuhan karena dokter mengatakan sudah tidak melihat (penyakitnya, Red),” ungkap dia.
Ternyata, Titiek sanggup melewati pengobatan itu dan masih diberi usia yang lebih panjang. Putri pasangan Tugeno Puspowidjojo dan Siti Mariam tersebut kemudian berpikir, apakah dirinya masih dibutuhkan banyak orang di dunia. ”Saya katakan, ’Saya masih harus ada atau bagaimana?’ Saya nggak mengerti. Sekarang saya tahu bahwa banyak orang yang cinta sama saya, suka sama saya, perhatian sama saya. Dengan Facebook, berita dari Facebook, orang datang setiap hari. Yang ketemu anak saya titip salam,” ujar Titiek bangga.
Ketika divonis mengidap kanker oleh dokter, dia tidak terlalu kaget. Sebab, menurut dia, ada riwayat mengidap kanker dari ayahnya dan kakak kandungnya yang sudah meninggal. ”Ada gennya. Maka, ketika dibilang kena kanker, oh saya kena juga toh? Ya sudah. Sebab, bapak saya sudah, kakak saya malah sudah diambil (meninggal, Red),” ucapnya.
Titiek hanya perlu berpikir jernih dengan mengingat tujuan hidup. Bagi dia, hidup tidak digunakan untuk mengaduh, mengeluh, dan sejenisnya. Cukup mengerjakan apa yang bisa dikerjakan dengan sepenuh tenaga, pikiran, moral, dan material. ”Kalau kita pakai semua itu, alam akan mendukung,” yakin istri Sukasno (alm), Zainal Ardi (alm), dan Mus Mualim (alm) tersebut.
Saat ini Titiek justru mendapatkan program penyembuhan tambahan berupa meditasi. Hanya, atas pesan sang pemilik program, nama dan tempatnya tidak disebutkan. ”Jadi, anak saya, Petty, punya teman. Dia habis lumpuh, stroke. Oleh dokter, nggak ditemukan penyakitnya sampai dia akan gila. Itu sekian lama. Dengan meditasi itu, dia sembuh,” ujar Titiek soal awal pertemuannya dengan guru meditasi tersebut.
Guru itu secara tidak sengaja membaca sakit yang diidap Titiek dari sebuah tabloid di minimarket di Jakarta. Tabloid tersebut saat itu memang mengulas penyakit yang diderita Titiek. Lewat teman Petty itulah guru tersebut mendapatkan kontak ke keluarga Titiek.
Sampai saat ini Titiek sudah menjalani delapan di antara total 13 kali meditasi yang harus dijalani. Meditasi dilakukan setiap hari dalam dua tahap. ”Saya terapi semacam meditasi, harus 13 hari nonstop. Satu hari lima jam, dipotong-potong. Siang dua jam, malam tiga jam. Malam, meditasi setelah pukul enam sore,” terangnya.
Latihannya berupa latihan pernapasan, kemudian lidah ditekuk ke atas. Selanjutnya, dia memejamkan mata, duduk bersila, serta tidak boleh bergerak maupun bersandar. ”Tidak ada obat-obatan, cuma meditasi. Memang dari sana saya tidak dikasih. Jadi, saya sudah fokus meditasi, tidak ada obat,” tegas Titiek yang akan kembali ke Singapura untuk mengecek perkembangan kesehatannya sekitar tiga bulan lagi itu.
Latihan pernapasan tersebut tidak bisa sembarangan. Setelah menarik napas, napas yang diembuskan harus sangat halus, tidak boleh sampai terdengar ke telinga. Apa efeknya? ”Waktu saya baru pulang dari Singapura, kalau begini (agak menunduk, Red), sakit. (Perut, Red) kayak ditonjok. Sekarang nggak. Terus, kalau ke belakang (ke toilet, Red), sepulang dari Singapura itu, saya mesti minum pencahar. Sekarang nggak usah, keluar sendiri. Penglihatan saya kemarin itu buram, sekarang bisa melihat terang,” jelasnya.
Setelah 13 kali meditasi di bawah arahan instruktur, Titiek akan meditasi sendiri sampai sekitar enam bulan agar kondisinya sempurna. Dia juga membatasi makanan. Salah satunya, dia tidak makan daging merah dan seafood serta minum minuman bersoda maupun beberapa lainnya. (nw)