Kamis, 09 September 2010
Tiga Direktur RS Roemani Dinonaktifkan

Tiga Direktur RS Roemani Dinonaktifkan

SEMARANG—Yayasan Muhammadiyah Semarang akhirnya mencopot Direktur Utama RS Roemani dr Masrifan Jamil dari jabatannya. Tak hanya itu. Pihak yayasan juga menonaktifkan dua direktur lain. Yaitu Direktur Bidang Medis Gunadi dan Direktur Bidang Umum dan  Keuangan, Jusmi Anif. Ketiganya berstatus dinonaktifkan sementara.

Tindakan Yayasan Muhammadiyah menyusul unjuk rasa yang dilakukan ratusan karyawan rumah sakit tersebut sehari sebelumnya, pada Senin (18/1) lalu.
Seperti diketahui, unjuk rasa dilakukan sepanjang pagi hingga malam hari. Karyawan RS Roemani  menuntut pihak yayasan mencopot Direktur Utama dr Masrifan Jamil dari jabatannya. Sebab Masrifan dinilai ingkar tak segera mundur dari PNS setelah menjabat direktur.
Informasi yang digali koran ini menyebutkan,  menyikapi tuntutan karyawan RS Roemani, malam harinya (Senin malam)  langsung digelar rapat dadakan. Rapat melibatkan pemilik RS Roemani, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), perwakilan karyawan, serta Badan Pelaksana Harian, juga anggota tim independen rumah sakit.
Kepala Bagian Humas RS Roemani Jatmiko Susilo Ia memaparkan, setelah digelarnya aksi itu, direktur dan wakilnya langsung dinonaktifkan dan digantikan direktur sementara, yaitu oleh Naharuddin Jenni, salah satu dokter spesialis saraf yang praktik di rumah sakit setempat. Sedangkan Direktur Pelayanan Medis dijabat oleh Shofa Chasany, dan Soekamto sebagai Direktur Umum dan Keuangan.
.”Pak Masrifan mulai hari ini (kemarin, red), dan diganti pak Naharudin hingga 6 bulan ke depan sambil menunggu keputusan selanjutnya dari pihak yayasan,” pintanya.
Ditanya adanya PHK yang mengancam karyawan RS tersbut, dia menampik adanya hal itu. Sebab, rumor tersebut belum jelas pula. Namun, pihaknya juga tak bisa mengelak kalau direktur utama Masrifan, juga pernah memecat 15 karyawan.  “Bisa jadi, di antara mereka ada yang sakit hatinya lantaran ada temannya yang di pecat,” katanya.
Sedangkan disinggung masalah kesejahteraan dan perhatian dari pihak direktur lama, hal itu menurutnya relatif saja alias stabil.”Kalau soal itu kan tinggal tergantung niat kita, besar pun kalau kita kurang menerima pasti dianggap kurang memuaskan,” . Tetapi masalah tersebut sekarang tengah ditangani pihak yayasan.
Terpisah, untuk memastikan direktur utama apakah benar sudah tidak mulai kantor, koran ini mencoba menelusuri ruangannya. Dan ternyata sudah tidak menampakkan diri di RS tersebut.
Sementara, dari keterangan Gunadi dan Jusmi, kedua direktur yang membidangi medis dan umum tersebut, mengaku menerima apa pun keputusan yang diambil melalui rapat tersebut. Mereka ini siap menerima keputusan jika hal itu adalah jalan yang terbaik dan siap tidak meneruskan jabatannya kembali.(nag)



 
Banner
Copyright © 2008 PT. Yogyakarta Intermedia Pers. All rights reserved.