|
Mia Jones, Gadis Enam Tahun yang Mahir Bahasa Isyarat
Kini Ajari Adik, Periode Tersulit saat Mulai Sekolah
Terlahir dari pasangan tuna rungu, Mia Jones sudah diajari bahasa isyarat sejak berusia delapan bulan. Agar tetap bisa ngomong normal, tiap pekan dia dan sang adik diajak ke rumah kakek-nenek
KEDUA bocah kecil itu terlihat menikmati percakapan mereka. Sesekali Mia Jones, sang kakak yang berusia enam tahun, mengembangkan senyuman kepada adiknya, Oliver, yang usianya tiga tahun lebih muda. Mia juga dengan lancar menggerakkan jari tangannya yang mungil dengan mimik muka yang berbeda-beda.
Ya, dia sedang mengajari sang adik berbicara. Tapi, bukan bicara bahasa lisan, melalui bahasa isyarat. “Saya bisa mengatakan apa saja dalam bahasa isyarat sekarang. Oliver tak sebaik saya, tetapi saya mengajarinya. Teman-teman selalu bertanya dan meminta saya menunjukkan (bahasa isyarat) kepada mereka,’’ ungkap Mia dengan bangga seperti dilansir Daily Mail kemarin (18/1) Kemampuan berbahasa isyarat itu mulai dikuasai Mia sejak berusia tiga tahun. Yang mengajari kedua orang tuanya yang peyandang tuna rungu. Pelajaran pertama dimulai sejak dia berusia delapan bulan. Hasilnya, dia usia enam tahun sekarang ini, dia pun tumbuh sebagai gadis kecil yang ceria dan dapat berkomunikasi dengan dua bahasa. Yaitu, lisan dan isyarat. “Tanda (isyarat) pertama dikuasainya adalah ayah dan ibu. Dia tak menunjukkan bentuk yang sempurna seperti bayi yang berbicara ’mama dan dada’, tetapi kami mengerti. Hati kami bergetar sama halnya seperti orang tua yang mendengar anak mereka berbicara untuk kali pertama,’’ aku sang ibu, Jacqueline, 34. Terlahir dari pasangan penyandang tuna rungu Mia pun terbiasa hidup bersosialisasi dan berkomunikasi dalam kehidupan tanpa suara. Beruntung Mia dan saudaranya, Oliver, terlahir normal. Dalam artian tak tuna rungu. Kendati memiliki kekurangan, ayah Mia dan Oliver, yaitu Craig serta Jacqueline Jones, tak pernah mau berkecil hati. Mereka tak ingin mengurung anak mereka di dalam rumah. Justru, keduanya berusaha agar kedua buah hati mereka terbiasa hidup dalam kondisi yang amat berbeda. Sejak kecil pasangan yang menikah 17 tahun silam tersebut mengajari putra-putrinya bahasa isyarat. Setiap akhir pekan mereka selalu mengajak Mia dan Oliver kecil bersosialisasi dengan komunitas tuna rungu. Namun, kehidupan di luar komunitas tuna rungu juga mereka perkenalkan. Dengan berkunjung ke kakek neneknya yang bukan penyandang tuna rungu, secara berkala mereka juga terbiasa dan bisa berbicara secara normal. Mereka juga menikmati masa kecil bahagia seperti anak kecil lainnya dengan bersekolah dan bermain bersama anak sebaya mereka. Sehari-hari pasangan Jones menjalani hidup tak ubahnya keluarga yang lain. Craig bekerja untuk dewan lokal di Darlington. Yaitu, kawasan yang terletak di bagian timur Inggris. Tepatnya di wilayah county Durham. Sejak menikah, mereka bertekat untuk membiasakan anak-anak mereka nantinya berinteraksi secara normal. “Beberapa orang tua tuna rungu menekan anak mereka. Saya tidak mau seperti itu. Saya tak akan pernah membawa Mia ke dokter dan memintanya mengerti mengenai kekuarangan (tuli) yang saya derita. Itu sama sekali tak adil,’’ tutur Jacqueline. Periode tersulit yang harus dilewati Jacqueline adalah ketika Mia mulai bersekolah. Karena, ketika itu, Mia mulai membandingkan kedua orang tunya dengan orang tua teman-temannya. Sadar akan hal itu, Jacqueline selalu berusaha berbicara kepadanya, tetapi Mia tak merespons. Namun, Jacqueline tak menyerah. Dia terus menekankan kepada Mia kalau dia harus tetap bangga memiliki orang tua yang tak sempurna secara fisik. Perlahan, Mia pun bisa mengerti keadaan itu. “Saya mengatakan padanya bahwa dia harus bangga meski kami tuli. Kami memiliki kehidupan yang sama seperti yang lainnya, kecuali ketulian ini,” aku lulusan sarjana pendidikan itu. Sejak awal menikah, Jacquleine dan suami sebenarnya sudah siap mental seandainya nanti sang anak juga tuna rungu. Mereka sadar kemungkinan untuk itu cukup besar. “Kami sama sekali tak berkeberatan sepanjang mereka dalam keadaan sehat. Yang terpenting, kami tetap bisa berkomunikasi sebagai keluarga,’’ papar Jacqueline. Mereka pun sangat bersyukur karena ternyata kedua anak mereka terlahir sehat dan tak memiliki kekurangan seperti mereka. (war/ttg)
|