Amerika Kewalahan Danai Ambisi NASA
** Sedot Rp 180 T, Misi Berawak Terancam Batal
WASHINGTON – Badan Luar Angkasa Nasional Amerika Serikat (NASA) tampaknya terpaksa mengurungkan niat mengirimkan misi berawak ke antariksa. Itu terjadi setelah panel kepresidenan keberatan mengeluarkan dana tambahan USD 3 miliar (sekitar Rp 30 triliun) pada anggaran tahunan NASA yang besarnya USD 18 miliar (sekitar Rp 180,6 triliun).
Dalam laporan 12 halaman yang dirilis pada Selasa waktu setempat (8/9) atau kemarin WIB (9/9), U.S. Human Space Flight Plans Committee menyebut misi berawak itu sebagai target ambisius NASA. ”Misi luar angkasa menjadi jauh lebih rumit saat sarana dan prasarananya tidak sesuai dengan aspirasi yang ada. Seperti kasus yang kita jumpai hari ini,” terang panel Gedung Putih tersebut dalam pernyataan tertulis seperti dilansir Agence France-Presse kemarin. Meski tidak gamblang, panel yang beranggota para pakar luar angkasa itu menyatakan bahwa misi NASA terlalu mahal. Pemerintah tidak sanggup mengeluarkan biaya ekstra untuk mendanai misi NASA yang tahun ini membutuhkan anggaran sebesar USD 18 miliar (sekitar Rp 180,6 triliun). Maka, rencana NASA untuk mengirimkan kembali astronot ke bulan dan Planet Mars terancam batal. Tapi, dalam laporan parsialnya, panel tersebut juga menawarkan jalan keluar alternatif. ”Ada peluang rendezvous dengan bulan-bulan Planet Mars atau mengirimkan manusia ke bulan lewat misi menjelajah tata surya bagian dalam (inner solar system) yang mungkin bisa diwujudkan pada pertengahan atau akhir 2020an,” papar panel tersebut. Rencananya, laporan lengkap Gedung Putih terkait misi-misi antariksa NASA bakal dirilis akhir bulan. Alternatif lain yang ditawarkan panel kepresidenan adalah bekerja sama dengan badan antariksa negara lain. Terutama, dalam program pengiriman pesawat berawak ke bulan dan Planet Mars. Dengan menjalin kerja sama dengan negara lain, maka beban Gedung Putih untuk membiayai misi NASA akan berkurang. Sebab, negara yang diajak bekerja sama pun akan ikut membiayai misi tersebut. Jika tidak ada negara yang tertarik, NASA diimbau untuk merangkul pihak swasta. ”Aktif menjajaki kemungkinan bekerja sama dengan mitra internasional, sesuai prinsip dunia multipolar seperti sekarang, bisa memperkuat hubungan geopolitik, sumber daya dan eksplorasi luar angkasa dengan negara lain,” lanjut panel tersebut seperti ditulis USA Today. Selain meringankan beban finansial pemerintah, menurut Washington, bekerja sama dengan pihak lain berpotensi meningkatkan inovasi NASA dalam bidang teknologi. Di era pemerintahannya, George W. Bush, sempat meluncurkan program luar angkasa berjuluk Constellation pada 2004. Tujuan utama program tersebut adalah kembali mengirimkan astronot ke bulan pada 2020. Juga, membangun launchpad di bulan untuk misi pengiriman manusia ke bulan kali pertama. Namun, sebagai penerus Bush, Presiden Barack Obama menilai program-program tersebut terlalu mahal untuk diwujudkan. Penilaian panel kepresidenan tersebut menuai reaksi beragam. Marcia Smith, pakar keantariksaan yang pernah menjadi anggota Congressional Research Service menyayangkan laporan tersebut. ”Komite itu terlalu kejam. Saya ingin tahu, apa yang akan diperbuat pemerintah dengan merilis laporan seperti ini,” ujar pendiri situs spacepolicyonline.com tersebut. Dia menambahkan, bekerja sama dengan negara atau pihak swasta juga bukan hal yang mudah bagi NASA. (hep/ami)
|