Jumat, 12 Maret 2010
Keluarga Jibril Siap Tuntut Elite Intelejen

[Jumat, 28 Agustus 2009]

Polisi Duga Uang Dolar dari Timur Tengah

JAKARTA - Pernyidik Densus 88 Mabes Polri terus berusaha mengungkap dugaan bahwa Muhamad Jibril terlibat penyaluran dana operasional teroris. Salah satunya, dengan meneliti alur pendanaan situs Ar Rahmah yang didirikan oleh putra Abu Jibril itu.

”Ini baru didalami, situs (arrahmah.com) baru kemarin. Tentu membuat situs diperlukan biaya. Biaya pulsa dan pegawai, kita akan tanyakan dana itu,” ujar Kabareskrim Komjen Susno Duadji seusai acara diskusi di gedung DPR kemarin ( 27/08).
Jenderal bintang tiga itu menjelaskan, penangkapan Jibril didasari setelah adanya bukti awal. ”Setelah ada bukti nanti diperiksa. Setelah cukup bukti-buktinya akan dipublikasikan,” ujar mantan Kapolda Jawa Barat itu. 
Saat ditanya apakah benar Muhamad Jibril terkait aliran dana teroris, Susno menjawab, ”Belum bisa dikatakan benar atau tidak, semua masih dalam prediksi.” Kabareskrim juga menjelaskan bahwa perkara Jibril dan Ali Muhammad (warga Arab Saudi)  yang sudah ditangkap lebih dulu saling terkait. ”Tapi bentuknya speperti apa itu yang masih didalami,” kata Susno.
Sumber Jawa Pos di Mabes Polri menjelaskan, seri mata uang dolar yang digunakan oleh pengebom JW Marriott identik dengan seri dolar yang beredar di Timur Tengah. ”Kami berani menangkapnya (Jibril, Red) salah satunya karena itu,” katanya.
Apa hubungan uang dolar dengan Jibril? Menurut sumber itu, polisi meyakini tamu yang datang dan dijemput Jibril pada bulan Juni 2009 adalah orang yang menitipkan dolar pada Saefudin Jaelani alias Syaifudin Zuhri (masih buron). ”Sekarang ini sedang dikembangkan, apakah  Jibril tahu kalau uang itu digunakan untuk operasi Marriott. Kita masih punya lima hari,” kata sumber itu.
Bagaimana soal Ar Rahmah? Menurut sumber itu, sebagai sebuah media informasi situs Ar Rahmah mempunyai sistem pendanaan dari sumbangan sukarela atau donasi. ”Karena itu, tidak ada audit. Kita sedang meneliti apakah ada keterkaitannya dengan kelompok-kelompok Noordin,” katanya.
Dalam laporan International Crisis Group  berjudul Jamaah Islamiyah Publishing Industry tertanggal 28 Februari 2008, Ar Rahmah Media disebut sebagai perusahaan yang terkait secara tidak langsung lewat pemakaian penterjemah dan agen distributor yang sama. Perusahaan ini merintis penjualan dan pemasaran VCD-VCD dari Al-Qaidah dan situs jihadis lain secara komersil di Indonesia.
Menurut laporan ICG itu Ar-Rahmah Media adalah perusahaan milik Muhamad Jibril, bekas anggota sel JI di Karachi, Pakistan, bernama al-Ghuroba. Dia adalah anak dari Fihiruddin alias Abu Jibril, yang tinggal cukup lama di Malaysia di dekat rumah para pendiri JI, yaitu Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir.
Ditemui usai buka puasa bersama SBY di Istana Merdeka, Kapolri Jenderal Bambang Hendarso membenarkan bahwa Muhammad Jibril pernah terkait Al Qaidah. ”Iya. Tapi ini sedang dikembangkan. Kita masih punya waktu sesuai ketentuan undang-undang,” kata Kapolri. 
Namun, paman Jibril Irfan S. Awwas membantah keras jika keponakannya terkait terorisme. Menurut Irfan, Jibril memang pernah menimba ilmu di Pakistan selama 3 tahun dan aktif di Al Ghuroba. Tapi Al Ghuroba bukan organisasi terlarang dan tidak ada kaitan dengan terorisme.
”Dia pernah belajar nyantri di Pakistan. Ada 3 tahun. Saya lupa tahunnya,” ujarnya usai bertemu dengan Kepala Densus 88 Brigjen Saut Usman Nasution di Rutan Bareskrim Mabes Polri Jakarta kemarin.
Menurut Ketua Tanfidz Laznah Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) itu, keluarga mengtahui segala aktivitas Muhamad Jibril. ”Pertanyaannya apa Al Ghuroba suatu gerakan teroris? Yang di Pakistan, Al Ghuroba bukan suatu larangan,” katanya. Irfan yang mendampingi Abu Jibril itu meminta elite polisi dan intelejen tidak memprovokasi masyarakat terkait isu terorisme.
 ”Kami akan menuntut pihak-pihak yang mengaitkan jihad dan Islam dengan teroris, misalnya Pak Hendropriyono (mantan Ka BIN), Pak Ansyad Mbai (Kepala Desk Antiteror Menkopolhukam), Pak Anton Tabah (staf ahli Kapolri) dan Suryadarma Salim  (mantan Kadensus 88),” katanya.
Abu Jibril membantah keras jika dikatakan ditolak warga sekitar rumahnya oleh Habib Abdurrahman Assegaf. ”Dia itu Habib palsu. Justru dia orang yang dibayar untuk memprovokasi warga,” kata Abu Jibril pada Jawa Pos.
Dia menegaskan, hubungan antara jamaah dengan dirinya sangat baik. ”Antum boleh tanya ke seluruh pengurus masjid. Tidak ada masalah,” katanya. Dia juga membantah telah menguasai masjid untuk kelompoknya sendiri seperti yang ditudingkan oleh Assegaf. ”Pernyataan itu menyesatkan. Kami akan tuntut dia (Assegaf) minta maaf. Kalau tidak akan kami tuntut di depan hukum,” tegasnya.
Saat ditanya soal tamu Muhamad Jibril, Abu Jibril mengaku tak pernah tahu. ”Tentang tamu dari Arab saya tidak tahu, tidak pernah datang ke rumah saya,” katanya. Dia menegaskan kalau Jibril sering ke rumahnya di Pamulang. ”Tapi, kalau anak saya pulang ke rumah, dia tidak  pernah membawa orang,” katanya.
Usai dari Mabes Polri, Abu Jibril yang didampingi Ketua Tim Kuasa Hukumnya, Muhammad Haryadi Nasution dan Ketua Lajnah Tanfidzyah Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Irfan S Awas, kemarin, meminta dukungan dari DPR. Namun, rombongan hanya diterima anggota Komisi I dari Partai Bulan Bintang (PBB) Ali Mochtar Ngabalin.
Menurut Ngabalin, keluarga Abu Jibril adalah orang-orang yang baik, mengerti agama dan berpendidikan. Karena itu, dia tidak meyakini bila Muhamad Jibril dikaitkan dengan teror bom. Apalagi, berperan sebagai penggalang dana bagi para pelaku terorisme.
’’Saya tidak percaya itu. Penyalur dana dari mana. Jauh lebih mudah akses saya untuk bisa mendapatkan dana dari Timur Tengah, dibanding dengan adik-adik saya itu. Saya tahu mereka. Nggak mungkin itu,’’ tuturnya.
Dia mengatakan, keluhan Abu Jibril juga akan dikomunikasikan ke Komisi III yang khusus membidangi Hukum dan Keamanan Dalam Negeri. Komisi I sendiri akan mendekati dari aspek pertahanan dan inteligen. ’’Yang jelas kami semua bermitra dengan Menkopolhukam,’’ kata Ngabalin.

Noordin Nikah Lagi?
Di bagian lain, pengamat terorisme Al-Chaidar mengaku mendapat informasi dari seorang temannya yang anggota komunitas Darul Islam (DI), bahwa Noordin telah menikahi Novi Lutfiati, 19, anggota kelompok yang sama. Chaidar mengungkapkan, kepada gadis asal Pandeglang, Banten itu Noordin mengaku bernama Mochamad Mustafa, warga negara Brunei Darussalam.
”Saya tidak tahu lokasi pastinya,” kata Al Chaidar saat ditanya dimana alamat Novi. Kapolri tak mau berkomentar soal isu itu. ”Kita tunggu saja pengembangan di lapangan,”kata Kapolri .
Dalam laporan terbaru International Crisis Group berjudul Noordin Top’s Support Base, kelompok Pandeglang lebih dikenal sebagai Ring Banten. Ring Banten yang dulu dipimpin oleh seseorang bernama Kang Jaja alias Aqdam mempunyai hubungan yang lama dengan Noordin. Bahkan, sejak pengeboman Kedubes Australia 2004. ”Salah satu yang terbaru adalah Nana Ichwan Maulana yang menjadi pengebom Ritz-Carlton. Nana adalah warga Pandeglang, Banten,” tutupnya. (rdl/pri/sof/iro)

 
Banner
Copyright © 2008 PT. Yogyakarta Intermedia Pers. All rights reserved.