Jumat, 12 Maret 2010
10 Dubes Hadiri Pembukaan BIF

[Jumat, 17 Juli 2009]

10 Dubes Hadiri Pembukaan BIF
Indonesia Pentaskan Pratihata Gunadharma, Kamboja Merak

MUNGKID - Sepuluh duta besar (dubes) dan empat perwakilan negara sahabat tadi malam menghadiri pembukaan Borobudur Internasional Festival (BIF) 2009.

Mereka adalah dubes Afganistan, Rusia, Kroasia, Lebanon, Nigeria, Rumania, Suriname, Saudi Arabia, Portugal dan Komboja. Sedang perwakilan negara sahabat datang dari Polandia, Somalia, Bulgaria dan Brunei Darussalam.
Pembukaan dilakukan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wajik. Acara didahului sambutan selamat datang berupa Tari Gambyong oleh Sanggar Tari Soeryo Soemirat dari Mangkunegaran, Solo. Kegiatan dipandu MC Tia Maryadi. Pada kegiatan tersebut ditandatangani perangko BIF.
Jero Wajik berharap budaya dan pariwisata harus sejalan agar bisa berimplikasi untuk kesejahteraan masyarakat sekitarnya. ‘’Bayangkan jika Candi Borobudur, peninggalan sejarah yang diwariskan nenek moyang kepada kita ini kosong tak ada orang. Apa jadinya? Ya, budaya dan pariwisata harus sejalan,” katanya.
Jika tidak ada budaya, tentu suatu tempat tidak akan menarik. Seperti Borobudur, jika tidak ada candi, tidak akan dikunjungi wisatawan. Sebaliknya, jika ada budaya namun tidak dipromosikan untuk pariwisata, maka tidak akan ada implikasinya untuk masyarakat.
Dengan kegiatan BIF ini ia berharap ada implikasi untuk masyarakat di sekitar Borobudur. ‘’Ini sudah tampak pada hotel-hotel di Solo yang penuh dihuni para duta besar, hotel di Magelang juga dan travel mart di Semarang. Rangkaian ini sudah sangat gamblang untuk kesejahteraan rakyat,” tuturnya.
Dikemukakan Jero Wajik, tidak ada orang yang boleh meragukan bahwa Candi Borobudur adalah keajaiban dunia. Sekitar abad ke-8, nenek moyang bangsa Indonesia sudah mampu membangun candi yang relatif tinggi tingkat kesulitannya. Ketika itu, katanya, belum ada insinyur dan teknologi maju.
‘’Kalau sekarang kita diminta membuat Candi Borobudur seperti ini, insinyur banyak, teknologi sudah tinggi, belum tentu bisa. Candi Borobudur salah satu keajaiban dunia. Tidak ada orang yang boleh meragukan bahwa Borobudur memang ajaib,” paparnya.
Soal kemungkinan BIF dilaksanakan setahun sekali, Gubernur Jateng Bibit Waluyo merasa belum perlu. ‘’BIF ini rencananya akan digelar lima tahun sekali. Jika digelar setiap tahun, malah akan menghilangkan spirit,” ungkapnya.
Dalam sambutannya, Bibit mengatakan kegiatan BIF sebagai ruang bertemunya para pelaku seni budaya dan pariwisata. Setidaknya ini bisa memberikan dorongan positif untuk lebih mengenalkan Borobudur ke seluruh penjuru dunia.
Dalam pembukaan kemarin, duta seni dari Kamboja mementaskan ‘’Burung Merak’’ yang menggambarkan keindahan hubungan alam dan manusia. Dua penari laki-laki dan perempuan mengenakan kostum ekor merak, hampir menyerupai burung aslinya. Ini menjelaskan kedamaian dan keindahan negeri Kamboja yang patut untuk dikunjungi.
Tuan rumah mempersembahkan Tari Pratihata Gunadharma dari seniman ISI Solo. Gunadharma sendiri adalah tokoh pelaksana mandala suci Candi Borobudur. Dia mencoba membuka kesadaran manusia mengarungi kehidupan yang dilandasi spiritual.
Dalam tari ini digambarkan berbagai hewan ganas harimau dan singa mengejar keberadaan manusia. Hewan pemangsa ini sebagia simbol dari angkara murka. Akhirnya manusia bisa melampaui cobaan itu dengan mengedepankan hati suci dan spiritual untuk melihat dunia yang sesugguhnya. (dem)

 
Banner
Copyright © 2008 PT. Yogyakarta Intermedia Pers. All rights reserved.