|
[Selasa, 7 Juli 2009] Melihat Langsung Perhelatan DISL Fair Play Awards di Surabaya Tetap Megah Meski Tak Disiarkan Nasional
Kemegahan tetap terlihat dari perhelatan penganugerahan Djarum ISL (DISL) Fair Play Awards
yang berlangsung di Ballroom Shangri La Hotel Surabaya, Sabtu (4/7) malam lalu. Meski baru dua kali digelar, even ini menjanjikan nuansa gengsi dalam persepakbolaan di negeri ini.
AGUS WAHYU, Jogja
SAAT masuk ballroom tempat digelarnya acara ini, orang sudah disuguhi nuansa even yang megah, layaknya, perhelatan dunia entertainment. Dipandu dua host kondang Uya Kuya dan Tamara Geraldine, acara ini berlangsung heboh. Meski tak disiarkan TV nasional, DISL Fair Play Awards ini tetap memunculkan rasa gengsi. Ruangan yang disulap sebuah stadion dengan tempat duduk melingkar di pinggir panggung, acara itu tampak anggung. Seluruh tamu mengenakan kemeja dibalut jas sehingga muncul kesan eksklusif. Jadi semua yang datang pun menjadi tamu penting. “Mudah-mudahan ini menjadi inspirasi bagi insan bola, termasuk pemerhati sepakbola negeri ini agar menghargai betapa pentingnya nilai-nilai sportivitas dan fair play itu. Ini mungkin masih kecil, tapi Jawa Pos dengan seluruh jaringannya, telah berbuat nyata yang lebih baik,” ucap Tamara membuka acara. Even yang digagas Jawa Pos bersama Jawa Pos News Network (JPNN) ini menjadi ajang bertemunya insan bola tanah air. Kendati belum semua tokoh sepakbola seperti pelatih, pemain, atau pengurus klub hadi, even ini mendapat perhatian lebih bagi – minimal – mereka yang masuk nominasi penghargaan ter-fair play. “Ini momen bagus bagi kami, orang sepakbola. Usai kompetisi masih bias bertemu saling kangen sambil berbincang soal sepakbola kita,” lontar pelatih Persiwa Wamena Suharno. Bagi Talaohu Abdul Musafri, peraih player of fair play awards musim ini bisa memacu semangatnya agar terus menjadi pemain yang terbaik. Apapun kondisi kompetisi negeri ini, acara ini bisa menjadi inspirasi para penggelat kompetisi ini (BLI-PSSI) untuk selalu lebih baik. Boleh jadi ajang pertemuan ini bisa menjadi ruang lobi bagi pemain, pelatih kepada klub-klub yang juga hadir di Shangri La untuk beradu nasib di musim kompetisi tahun depan. Yang menarik dari rangkaian momen ini adalah keakraban antara wasit Purwanto dengan pelatih Persipura Jacksen F Tiago, dimana dalam final Liga Indonesia lalu berseteru. “Ini kan di luar lapangan. Jadi tetap sahabat. Lagipula kasus itu saya tetap menginginkan untuk bermain,” lontar Jacksen yang berhasil merebut gelar pelatih ter-fair play musim ini. Tak hanya itu, pertemuan itu menjadi berkumpulnya para wartawan JPNN yang selama ini hanya bertemu jika tim-tim daerahnya bertandang ke luar daerah. Kami pun bisa saling sharing informasi untuk menampilkan berita-berita sportive lebih bagus dan menarik bagi pembaca. *** |