Jumat, 12 Maret 2010
Kiai Kultural NU Bersatu Dukung JK

Kiai Kultural NU Bersatu Dukung JK

JAKARTA- Sebanyak 20 kiai kultural NU (Nahdaltul Ulama) menyatakan dukungan kepada duet capres-cawapres, M Jusuf Kalla (JK) dan Wiranto. Dukungan itu dimanifestasikan dengan pernyataan terbuka dalam bentuk iklan di sebuah media cetak legendaris di kalangan tokoh dan warga NU, Duta Masyarakat , edisi Jumat (19/6).
Di antara kiai NU kultural yang mendukung duet JK-Wiranto adalah KH Abdullah Faqih, pimpinan Pondok Langitan Tuban. Ada pula KH Mutawakkil Alallah, Ketua PWNU Jatim; KH Chotib Umar, pimpinan Pondok Raudhlatul Ulum Jember; KH Muchit Muzadi, salah satu deklarator PKB dan kakak kandung Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi; KH Sofyan Miftah dari Situbondo, KH Zainuddin Djazuli, pimpinan Pondok Ploso Kediri, dan banyak kiai lainnya.
Itulah sikap politik yang tegas para kiai NU di jalur kultural menjelang pilpres 2009. Ke-20 kiai NU yang teken dukungan tersebut merupakan pimpinan umat di akar rumput. Banyak di antara kiai itu telah menghasilkan alumni yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia , khususnya di Jatim, Jateng, dan Jabar. Ketiga provinsi itu dikenal menjadi basis Nahdliyyin yang besar di Indonesia.
Bahtsul masail pengasuh pondok pesantren tentang kepemimpinan nasional di Surabaya, 22 Mei silam, menghasilkan 6 poin penting. Pertama, keutuhan dan kesatuan langkah para ulama/masyarakat Pengasuh Ponpes dan tokoh NU Jawa Timur mutlak harus diwujudkan demi martabat dan kejayaan Islam, tegaknya Aswaja dan ketenteraman umat.
Kedua, perbedaan pendapat dan politik tidak boleh memutus tali silaturrahim di antara para ulama/masyayikh. Ketiga, sepakat memilih pemimpin harus didasarkan pada tujuan kemaslahatan umat, yang wajib memilih pemimpin yang mempunyai kesamaan ideologis yaitu Islam Aswaja dan kader NU (tidak hanya kesamaan agama).
Keempat, setelah mendapatkan informasi yang cukup dari berbagai sumber yang dapat dipercaya, satu-satunya kader NU hanyalah HM Jusuf Kalla yang saat ini masih aktif sebagai Mustasyar Pengurus Wilayah NU Sulawesi Selatan berpasangan dengan Wiranto. Poin kelima, para ulama bertekad memenangkan JK. Poin keenam, para ulama dan masyaikh pengasuh ponpes dan tokoh NU Jawa Timur menyeruhkan kepada seluruh umat Islam di Jawa Timur khususnya warga NU agar bersatu mengikuti langkah ulama demi keutuhan NU (Nadhhiyyin), dan demi keselamatan Aqidah Islam Aswaja di NKRI tercinta, serta meningkatkan Maslahatul Ammah.
Salah satu penandatangan pernyataan dukungan untuk JK, KH Mutawakkil Alalallah, mengatakan, bersatunya para kiai ini merupakan anugerah Tuhan. "Ini akan memperkokoh wibawa para kiai. Bersatunya para kiai ini bukan karena partai atau kepentingan duniawi, namun karena dipersatukan akidah," katanya, kemarin (19/6).
Menurut Kiai Mutawakkil, bersatunya para kiai adalah kemenangan tersendiri. Terlepas apakah keinginan para kiai akhirnya tercapai atau tidak. Ia merasa itu harus disyukuri. Pada pilpres 2009 ini, dari 3 pasangan yang tampil, hanya duet JK-Wiranto yang warna NU-nya sangat kental. JK maupun ayahnya, Haji Kalla, dikenal sebagai aktivis NU di Sulawesi Selatan.
Haji Kalla termasuk pendiri dan pengurus NU Sulsel. JK juga lama bergelut di ormas Islam Tradisional ini di tanah kelahirannya. Relasi JK dengan kiai dan pondok NU terajut sangat lama. Ada hubungan bersifat ideologi keagamaan, kultural, psikologis, dan kesejarahan antara JK dengan kiai dan ormas NU. JK kerapkali berkunjung ke sejumlah pondok NU, baik di Jawa maupun luar Jawa.
Kunjungan ke Bangkalan untuk berziarah ke makam Syaichona Kholil bin Abdul Latif, Jumat siang, menunjukkan bahwa JK memahami betul kultur NU. "Beliau punya kultur pesantren, tahu kalau Syaichona Kholil ini adalaah guru kiai-kiai besar di Indonesia , termasuk KH Hasyim Asy'ari (pendiri NU dan kakek Gus Dur), " kata Mutawakkil.
Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi di beberapa kesempatan mengingatkan kepada warga Nadhliyyin untuk memilih pemimpin dari NU. Hal itu seperti dikatakan saat berkunjung ke sekretariat PWNU Jabar akhir pekan lalu. (kmp)

 
Banner
Copyright © 2008 PT. Yogyakarta Intermedia Pers. All rights reserved.