Berita Hari Ini
|
...
|
 ...
|
|
...
|
|
...
|
|
...
|
 ...
|
 ...
|
 ...
|
|
...
|
|
...
|
 ...
|
|
|
|
Buka Rahasia Untung Berdagang
JAKARTA -- Cawapres PDIP-Gerindra Prabowo Subianto serius mendekati komunitas Tionghoa. Setelah menghadiri silaturahmi dengan Forum Demokrasi Kebangsaan (Fordeka) Masyarakat Tionghoa, Prabowo kemarin berbicara pada seminar yang diadakan Forum Komunikasi Jaringan Pengusaha Tionghoa bagi Kemakmuran Rakyat.
Seminar yang digelar di Balai Kartini, Jakarta Selatan itu bertema tentang ekonomi kerakyatan. ‘’Saya datang ke semua yang mengundang,’’ jawab Prabowo saat ditanya kedatangannya untuk menarik hati pemilih kalangan Tionghoa. Menurut Prabowo, kalangan Tionghoa yang banyak menjadi pengusaha harus memperoleh pemahaman yang benar mengenai ekonomi kerakyatan. ’’Awalnya memang ada yang memelintir ekonomi kerakyatan seolah –olah anti pengusaha besar,’’ ujar Prabowo. Padahal, imbuh dia, kalau pertumbuhan tinggi dan rakyat punya penghasilan, semua akan untung. Tak terkecuali, pengusaha besar. Sebab, daya beli masyarakat meningkat. Dalam orasinya, mantan Danjen Kopasus itu melontarkan guyonan. Prabowo juga menyebut warga Tionghoa memang lebih pintar berdagang dari orang Melayu. ’’Musiknya orang Tionghoa, seperti Barongsai itu, bunyinya ‘tung-tung-tung-tung’. Terus begitu. Makanya, selalu untung. Kalau orang Melayu musiknya kan ‘tak-tung, tak-tung, tak-tung, tak-tung’. Makanya, tak pernah untung,’’ candanya. Selain soal karakter ‘musik’, ada budaya lain yang memperkuat karakter bisnis warga Tionghoa. ’’Orang Tionghoa itu kalau untung, pura –pura rugi. Mungkin takut diminta sumbangan sana sini. Nah, orang melayu kalau rugi justru pura –pura untung. Soalnya, malu mengaku rugi,’’ kata Prabowo, lantas tertawa. Dia kembali menjelaskan salah satu prinsip yang berbeda antara ekonomi kerakyatan dengan ekonomi neoliberal. Menurut Prabowo, ekonomi kerakyatan atau ekonomi konstitusi lebih aktif memberdayakan masyarakat, karena bersifat buttom-up. Sedangkan, neolib berpegangan pada prinsip trickle down effect (kemakmuran yang ‘menetes’ ke bawah). ’’Jadi, rakyat diminta menunggu datangnya tetesan kemakmuran saja,’’ sindir Ketua Dewan Pembina DPP Partai Gerindra itu. Prabowo menyebut dalam konteks ekonomi kerakyatan, harus ada yang berfikir jauh ke depan agar Indonesia tidak hanya menjadi negara konsumen. ’’Sekian tahun ke depan berapa merek jam tangan milik kita, berapa merek minyak wangi milik kita,’’ tegasnya. ’’Saya sendiri ingin jadi pengusaha minyak wangi. Modalnya gampang, cukup air dan bunga,’’ candanya. Seminar juga dihadiri sejumlah pembicara. Di antaranya, ekonom dari Econit Hendri Saparini, Ahli Keuangan Mikro Endang Tohari, mantan Menteri Koperasi dan UKM di masa presiden BJ Habibie, Adi Sasono, dan pengusaha Hashim Djojohadikusumo yang tak lain adalah adik Prabowo. Hashim menambahkan, ekonomi kerakyatan bukan kiri, bukan sosialis, bukan juga fasis. Fokus dari ekonomi kerakyatan adalah meningkatkan daya beli masyarakat. ’’Semakin tinggi daya beli masyarakat, semakin bagus orang usaha,’’ katanya. Dia menuturkan, di negara yang sangat kapitalis seperti Amerika Serikat saja, ada aturan yang melarang Wal-mart yang berada di dalam kota. Di Perancis juga tidak ada Carrefour yang berdiri di tengah kota. ’’Ada semacam perda di sana untuk melindungi pedagang kecil dan menengah. Nah, di Indonesia saya malah bingung,’’ ujar putra begawan ekonomi Indonesia, almarhum Sumitro Djojohadikusumo itu. Hashim juga mengaku bangga menjadi kapitalis (pengusaha, Red). Sebab, bagi dirinya modal itu netral. Bagi pengusaha, yang terpenting adalah memperoleh dan menggunakan modal. ’’Kalau dari hasil korupsi atau mencuri itu jelas haram. Tapi, kalau dapatnya dengan baik itu terpuji,’’ tandasnya. (pri/agm)
|
|
|