|
Sebelum Connie, Pernah Tangani Pasien Ingin seperti Angelina Jolie Setelah upaya puluhan tahun, akhirnya operasi perbaikan wajah (face-off) pertama di AS sukses dilakukan di Cleveland Clinic, Ohio, pekan lalu. Nama Indonesia ikut harum dalam momen bersejarah itu. Sebab, dari 20 dokter yang terlibat, terdapat dokter asal Sulawesi Utara.

Meski baru saja terlibat dalam peristiwa medis bersejarah di negara yang memimpin perkembangan ilmu kedokteran, Risal Satiaputra Djohan, 43, terkesan sangat bersahaya. Beberapa kali wartawan koran ini menghubungi untuk wawancara, bapak dua anak itu melayani dengan ramah. Risal dengan akrab melayani pertanyaan yang diajukan. Bahkan, kadang dia menjawab dengan merendah.
Soal prestasi monumentalnya terlibat dalam tim yang melakukan operasi face-off pertama di Amerika Serikat, itu misalnya. Dia menolak kalau kesuksesan operasi itu karena perannya. ’’Ah, enggak. Itu kan pekerjaan sebagai tim. Tidak hanya saya yang mengoperasi si Connie (Connie Culp, pasien face-off, Red),’’ ujar Risal dalam bahasa Indonesia yang jelas. Operasi terhadap Connie memang menjadi perhatian besar di Amerika. Connie adalah pasien yang mengalami kerusakan wajah hebat akibat ditembak suaminya dari jarak dekat lima tahun silam. Dia berhasil ditransplantasi dengan muka perempuan yang telah meninggal. Operasi itu dilakukan lima bulan lalu di Klinik Cleveland, Ohio. Pada Selasa (5/5) pekan lalu, Connie untuk kali pertama muncul di depan publik setelah sekian lama identitasnya dirahasiakan. Dipimpin dr Maria Siemionow, tim dokter yang di dalamnya termasuk Risal, melakukan operasi selama 22 jam. Tim dokter mengganti 80 persen bagian wajah Connie dengan tulang, otot, saraf, kulit, dan pembuluh darah pedonor. Dia baru keluar rumah sakit pada 5 Februari lalu, tapi tetap berkonsultasi dengan dokter. Bagaimana Risal bisa bergabung dalam tim dokter bedah terbaik di AS? Risal memang mengawali sekolahnya di SD dan SMP Ora et Labora Kebayoran Baru. Lulus dari situ, lelaki kelahiran Jakarta itu melanjutkan ke SMA Pangudi Luhur di Jakarta. Setelah itu, barulah dia merantau ke Amerika pada 1986. Di negeri rantau yang jauh dari orang tua dan saudara, Risal berjuang habis-habisan. Dia mengerahkan seluruh upaya untuk menjadi yang terbaik di dunia kedokteran AS. Pada tahun pertama, Risal menempuh studi di Santa Fe Community College dan langsung melanjutkan ke University of South Florida jurusan Medical Technology Program pada 1989. Ijazah dari dua universitas kedokteran bergengsi di AS itu tak membuat pria kelahitan Jakarta 15 Oktober 1965 tersebut cepat puas. Tamat dari University of South Florida, Risal terus memburu ilmu dengan mengambil spesialisasi Reconstructive Microsurgery Fellow dan Plastic and Reconstructive Surgery Resident di University of Chicago Hospitals pada 2000 hingga 2002. Nah, setelah lulus dari dua kelas spesialisasi itulah Risal baru praktik di Cleveland Clinic. Kini, sudah enam tahun Risal bekerja di klinik tersebut. Sudah banyak operasi bedah plastik yang dia tangani. ’’Lupa, ada berapa. Yang jelas, banyak sekali. Belum lagi research. Pokoknya nggak terhitung,’’ katanya. Selain melakukan operasi bedah untuk korban kecelakaan seperti Connie, Risal sering menerima pasien untuk bedah kosmetik. Mereka biasanya orang-orang yang ingin mengubah bentuk wajah dan tubuhnya agar terlihat lebih menarik. Pernah, Risal mendapat pasien yang ingin wajahnya mirip bintang Hollywood Angelina Jolie. Suami Bradd Pitt yang memang dikenal superseksi itu ingin ditiru bentuk bibir dan rahangnya. ’’Kalau kami bisa, ya akan kami layani. Kalau tidak bisa, kami tolak dengan baik-baik,’’ katanya. Karena reputasinya terjaga, karir Risal di Cleveland Clinic terus menanjak. Dari dokter spesialis biasa kini dia dipercaya menjadi kepala pendidikan untuk Plastic Surgery dan kepala bidang Microsurgery and Breast Reconstruction (untuk penderita kanker payudara). Tak hanya itu, jam terbang serta kualitas hasil kerja Risal akhirnya juga menarik perhatian dr Maria Siemionow. Atasan Risal ini tak ragu sedikit pun ketika mengajaknya bergabung dalam tim dokter terbaik untuk melakukan operasi paling rumit di Amerika. Setelah sukses memulihkan wajah Connie yang sebelumnya hancur hampir 80 persen, lulusan terbaik ke-20 dari The Chicago Medical School itu mengakui mendapat banyak respons, baik dari sesama kolega dokter di Amerika maupun rekan-rekan lamanya di tanah air. ’’Kakak saya yang tinggal di Jakarta juga memberi tahu. Katanya nama saya terkenal dan banyak dimuat koran di Indonesia,’’ ujarnya sambil tertawa kecil. Tak hanya mengontak, kakak Risal juga memindai berita yang dimuat di Jawa Pos dan mengirimkannya ke Risal melalui e-mail. Berita kesuksesan operasi itu pun membuat teman SD, SMP, dan SMA Risal yang tak pernah mendengar kabar lelaki berdarah Sulawesi Utara itu jadi tahu. Mereka turut bangga akan prestasi teman masa kecilnya itu. ’’Mereka kirim e-mail dan mengaku ikut bangga, saya kaget’’ kata peraih gelar Magna Cum Laude dari lulusan University of South Florida jurusan program sarjana Science in Biology itu. Dengan semua prestasi itu, adakah niat Risal untuk kembali ke Indonesia? Ketika wartawan koran ini menanyakan itu, Risal tertawa kecil. ”Sepertinya belum ada pikiran ke sana,’’ ujarnya. Risal merasa waktu enam tahun di Cleveland Clinic belum apa-apa. Dia ingin mendapatkan lebih banyak pengalaman di negeri pimpinan Barack Obama itu. Lagi pula, kata dia, kalaupun harus kembali ke Indonesia, dia juga bingung akan melakukan apa. ’’Mau melakukan apa di Indonesia kan belum jelas. Jadi, lebih baik di sini saja. Sudah jelas peran dan posisi saya,’’ katanya. Selain itu, kata Risal, untuk pindah ke Indonesia, dirinya juga harus mempertimbangkan pendidikan anak-anaknya. Mereka masih duduk di bangku sekolah. ’’Kalau mereka sudah lepas dari sekolah, mungkin bisa berpikir ke arah sana. Sekarang tidak dulu lah,’’ ujarnya. Membina rumah tangga dengan Linda Djohan, mahasiswi satu kampus asal Jakarta, Risal dianugerahi Michelle Djohan dan Melissa Djohan. Michelle kini duduk di SMA kelas 1 dan Melissa di SMP kelas 2. ’’Meskipun besar di AS, saya mendidik mereka dengan adat Timur,’’ ujar Risal. Di rumah Risal dan Linda juga mengajari anak-anaknya untuk berbahasa Indonesia dengan baik. Begitu pula norma-norma Timur yang dia anut. Apalagi, mertua Risal (orang tua Linda) juga tinggal satu atap dengannya di Devonshire Oval, Westlake, Ohio. ’’Mertua juga ikut membantu mendidik anak-anak,’’ katanya. (*/kim) |