Jumat, 24 Mei 2013
Nunggu 1,5 Jam, Menguap dan Belajar Sabar
Tuesday, 13 November 2012 07:56

Nunggu 1,5 Jam, Menguap dan Belajar Sabar

Menunggu merupakan salah satu kegiatan yang sangat mungkin pernah dilakoni banyak orang. Puluhan pelajar sekolah dasar di Kota Jogja harus menunggu lebih sejam untuk mengikuti seremonial penyerahan bantuan pendidikan di Balai Kota Jogja.
HERI SUSANTO, Jogja

ADA pemandangan berbeda di Ruang Utama Bawah (RUB) kompleks Balai Kota Jogja kemarin (12/11). Ruangan yang kerap menjadi tempat pertemuan para pegawai negeri sipil di lingkungan Pemkot Jogja itu diisi puluhan pelajar. Mereka adalah penerima bantuan pendidikan dari Lembaga Orang Tua Asuh (LOTA) Kota Jogja. Mereka berasal dari beberapa sekolah di Kota Jogja. Mereka sedang menanti Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti. Sesuai agenda, wali kota dijadwalkan menyerahkan secara simbolis bantuan pendidikan dari LOTA ini.
Puluhan pelajar itu datang secara bersama dengan guru masing-masing. Mereka masuk ke RUB sekitar pukul 10.00. Mereka terlihat duduk di kursi berjajar yang biasa dipakai untuk rapat para pejabat. Sembari menunggu, mereka melakukan hal-hal ringan.Ada yang bercanda dengan pelajar lain yang berada di dekatnya. Ada pula yang mengarahkan pandangan mengelilingi ruangan.Sekitar 1,5 jam mereka menunggu. ”Suwe banget,” kata seorang pelajar kepada rekannya.Selama menunggu wali kota, mereka tidak beranjak dari tempat duduk. Selama itu, mereka kerap terlihat memperhatikan jam dinding yang terpasang di dinding sisi selatan RUB. ”Masih lama, Pak?” ujar Isnaeni Dini Susanti, seorang pelajar, kepada gurunya.Ahlan Hanafi, pelajar dari SDN Bangunrejo I, terlihat beberapa kali harus menguap. Hal itu juga dialami siswa lainnya. Termasuk Abdullah Habib Husein dari SDN Gedongkiwo.Ahlan dan Abdullah, yang duduk bersebelahan, beberapa kali mengubah posisi duduk. Mereka sende-sende ke kursi. Terkadang, duduk sambil bertopang dagu.”Mau ngobrol (dengan pelajar lain), tidak kenal,” jelas Ahlan.Dia berusaha tetap tenang. ”Tadi sempat mainan. Tapi tidak lama karena takut kalau sampai ramai,” lanjutnya.Wali kota akhirnya urung datang. Pegawai menegaskan orang nomor satu di lingkungan Pemkot Jogja tersebut sedang mengikuti penandatangan kerja sama dengan Wali Kota Penang, Malaysia, di salah satu hotel di Jogja.
Wakil Wali Kota Jogja Imam Priyono akhirnya muncul. Dia menggantikan peran wali kota untuk menyerahkan bantuan secara simbolis. Istri Wali Kota Haryadi Suyuti, Tri Kirana Muslidatun, yang menjadi ketua LOTA Kota Jogja, hadir dalam kesempatan itu. Dia sempat memohonkan pamit sang suami kepada para pelajar dan guru. ”Karena ada acara yang tidak bisa ditinggalkan, akhirnya digantikan Bapak Wakil Wali Kota Imam Priyono,” katanya.Wakil dari PT Sari Husada selaku orang tua asuh, Endang Prasetyaningtias, sempat menghibur para pelajar selama menunggu pelaksanaan penyerahan bantuan. Dia berusaha mengajak komunikasi para pelajar. ”Semua tetap antusias,” ujarnya.
Ketua LOTA DIJ Tuyadi juga sempat ikut menghibur. Dia sempat meminta seluruh yang hadir untuk berlatih sabar. Bahkan, dia mengutip hadist Nabi Muhammad yang menekankan pentingnya bersabar. ” Innallaha ma'a sobirin, yang artinya sesungguhnya Allah SWT bersama orang-orang sabar,” terangnya.Wakil Wali Kota Imam Priyono memastikan ketidakhadiran wali kota bukan karena tidak mendukung pendidikan. Dia menegaskan, seperti dirinya, wali kota sangat memperhatikan pendidikan. Bahkan, Pemkot Jogja memiliki tim yang bertugas menjaring pelajar yang tak bisa memperoleh ijazah dari sekolah karena terkendala biaya. ”Kita akan membantu seluruh biaya agar bisa mengeluarkan ijazah itu,” jelasnya.Tahun ini, berdasarkan laporan ada 1.750 pelajar yang mendapatkan bantuan pendidikan. Dari jumlah tersebut, sekitar 350 pelajar di antaranya berasal dari Kota Jogja. (*/amd)

 
Banner
Copyright © 2008 PT. Yogyakarta Intermedia Pers. All rights reserved.