Sabtu, 25 Mei 2013
Stagen Andalan, Kain Lurik Sambilan
Monday, 05 March 2012 10:51

Stagen Andalan, Kain Lurik Sambilan

SLEMAN - Moyudan tak hanya layak dilabeli lumbung padi. Kecamatan itu juga memiliki sejumlah produk kerajinan berkualitas tinggi. Salah satunya adalah kain stagen.
Kain yang biasa digunakan untuk membebat perut itu diproduksi banyak warga di
Desa Sumberahayu. Sebagai produk rumah tangga, produk ini dibuat menggunakan benang dari wol atau katun yang dirajut menjadi kain. Dirajut menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).  
Sebagian warga bahkan memintal kapas sendiri untuk dijadikan benang. Untuk meningkatkan nilai jual, kain stagen yang identik dengan warna-warna gelap itu mulai dikembangkan menjadi motif baru. Motif anyar itu yakni lurik.
Para penenun memanfaatkan serat alami untuk pewarnaan. Di antaranya, menggunakan kulit kayu atau daun. ”Warnanya memang tak semencolok pewarna tiruan karena ini alami,” ujar Martini, ketua Kelompok Lurik Sekar Maju.
Untuk menghasilkan warna hijau, ujarnya, perajin menggunakan kulit kayu pohon mangga. Warna kuning berasal dari kayu tegeran, coklat tua dari kayu setinggi, dan merah menggunakan kayu secang.
Produksi yang dihasilkan kelompok yang terbentuk 2010 ini belum banyak. Produksi baru sebatas memenuhi pesanan dan belum diproduksi massal.
Ini bukannya tanpa alasan. Sebagian besar perajin yang rata-rata ibu rumah tangga menyatakan membuat kain lurik sekadar sebagai usaha sampingan. Mereka lebih memilih membuat kain stagen yang prosesnya lebih mudah dan lebaih cepat memperoleh penghasilan.
”Kain lurik hasilnya sebulan sekali. Kalau stagen tiap hari dapat, tiap lembar Rp 18 ribu,” ungkap Yulianingsih, seorang penenun. Setiap perajin rata-rata bisa menghasilkan dua lembar stagen sehari.
Selain itu, pembuatan kain lurik mengalami beberapa  kendala. Di antaranya, modal, alat, bahan, dan pemasaran.
Sejumlah kendala itu menjadi penyebab pemasaran kain lurik hanya dilakukan di DIJ. “Apalagi ada lurik Solo dan Klaten yang menjadi pesaing utama,” katanya.
Setiap bulan kelompok ini rata-rata menghasilkan 20 lembar kain lurik dengan dua ukuran. Yakni, panjang dua meter dengan lebar satu meter dan panjang tiga meter dengan lebar 70 cm.
Harganya antara Rp 75 ribu hingga Rp 85 ribu tiap lembar. Harga tergantung tingkat kesulitan pembuatan motif dan ukuran.
Untuk mendongkrak tingkat pesanan, Martini menerangkan, produk tenun Moyudan menggunakan pewarna alami. Itu sesuai permintaan pelanggan. ”Kita komitmen pakai pewarna alami,” paparnya.
Martini mengaku lurik Moyudan masih sulit bersaing dengan lurik kreasi perajin Solo yang lebih dulu mengorbit di pasaran. Lurik Solo lebih dikenal dibanding lurik Moyudan. “Otomatis, lurik Solo lebih banyak dicari konsumen. Meski kami memiliki motif beragam sesuai kreasi
masing-masing,” tutur dia. (yog/amd)

 
Banner
Copyright © 2008 PT. Yogyakarta Intermedia Pers. All rights reserved.