|
[16 Juli 2009] JAKARTA – Persaingan merebut pucuk beringin semakin panas. Bursa calon pengganti Jusuf Kalla semakin ramai. Kini muncul nama baru, yakni Yuddy Chrisnandi, yang bakal bersaing dengan nama besar, seperti Surya Paloh dan Aburizal Bakrie.
Yuddy tidak bisa dipandang enteng. Sebab, dia mendapat restu langsung dari JK. Bahkan, JK menyebut politikus muda itu layak menggantikan dirinya. Selama ini, Yuddy adalah juru bicara Tim Kampanye Nasional JK-Wiranto. Selain itu, dia menjabat ketua Departemen Organisasi, Kepartaian, dan Kaderisasi (OKK) DPP Partai Golkar. Sebagai anggota DPR, Yuddy dikenal vokal, bahkan sempat mencalonkan diri sebagai presiden. Yuddy menyatakan kesediaannya menjadi calon ketua umum di hadapan sidang pleno DPP di markas Golkar, Jl Anggrek Nelly, Slipi, Jakarta Barat, kemarin petang (15/7). Keberaniannya tersebut tak bertepuk sebelah tangan. JK yang saat itu memimpin rapat langsung merespons positif niat Yuddy tersebut. ”Benar Saudara Yuddy Chrisnandi siap maju sebagai ketua umum dan kita menghargai itu,’’ ungkap JK setelah rapat pleno di hadapan wartawan. Persyaratan penting yang telah dipenuhi oleh Yuddy, jelas JK, antara lain, calon ketua umum haruslah kader yang sudah menjabat sebagai pengurus harian Golkar minimal satu periode kepengurusan. Terkait dengan persyaratan itu, beberapa kandidat lain yang sering muncul di media massa, seperti Abu Rizal Bakrie, Fadel Muhammad, Surya Paloh, dan Sri Sultan Hamengkubuwono X, juga dipastikan lolos. Hanya, yang membuat berbeda, sebagaimana diakui JK, Yuddy yang pertama menyampaikan niat dan meminta restu di depan forum. Meski tidak disampaikan secara tegas, restu dan dukungan JK kepada Yuddy sudah bisa diprediksi. Pasalnya, di antara beberapa nama, dialah yang paling loyal membantu JK selama pilpres. Bentuk support JK terhadap Yuddy tampak jelas saat capres nomor urut tiga itu mengajak Yuddy pulang semobil setelah rapat pleno. Lalu, seperti apa sebenarnya kesiapan Yuddy? Dia memiliki beberapa pandangan khusus tentang bagaimana memimpin Partai Golkar ke depan. Salah satu prinsipnya adalah keharusan melaksanakan regenerasi di internal partai. ”Ke depan Golkar harus merekrut generasi muda sebanyak-banyaknya. Kalau tidak, Golkar hanya akan menjadi fosil yang akan segera masuk museum,’’ paparnya. Masih bertahannya kader-kader senior, menurut Yuddy, menjadi faktor penting yang melahirkan pragmatisme di tubuh Golkar. Pada akhirnya, regenerasi dan pengaderan partai tidak berjalan. (did/jpnn/tof) |