|
Ribut Kaus MU di Malaysia KUALA LUMPUR---Ribut-ribut soal pelarangan pemakaian berbagai atribut Manchester United (MU) di Malaysia sepertinya bakal segera berakhir. Ulama Malaysia menegaskan jika tidak akan ada pelarangan bagi warga negara mereka yang ingin mengenakan kaus atau aksesori lain yang terkait dengan tim sepak bola asal Inggris tersebut.
”Kami hanya mengimbau agar masyarakat tidak mengenakannya,” kata Harussani Zakaria, ulama dari negara bagian Perak seperti yang dilansir kantor berita AS Associated Press (AP) kemarin (23/7). Menurut Harussani, lambang setan, salib, atau tengkorak yang ada pada pakaian, menonjolkan nilai yang kurang baik bagi seorang muslim. Tapi bukan berarti dilarang. Harussani mengklaim jika pendapat tersebut juga diungkapkan ulama yang lain. Meski demikian, mereka tidak pernah berencana mengeluarkan fatwa melarang warga negara Malaysia mengenakan atribut tim sepak bola yang sering disebut sebagai The Red Devils tersebut. Sesuai julukannya, lambang MU adalah setan merah yang memegang trisula. Belakangan muncul polemik seputar rencana pelarangan pemakaian atribut MU di berbagai media di Malaysia. Alasannya, lambang MU bergambar setan yang dalam Islam, digambarkan mewakili nilai-nilai yang kurang baik. Awal mula kontroversi adalah keputusan Dewan Keagamaan Johor dan Mufti negara bagian Perak yang menjelaskan bahwa gambar salib, minuman beralkohol, dan setan di kaus-kaus klub sepakbola merupakan penghinaan terhadap Allah dan tidak seharusnya dipakai oleh umat Muslim. Selain kaus MU, kaos sepakbola lain yang dinyatakan tidak bisa diterima dalam Islam adalah kaos tim Brazil, Portugal, Serbia, Barcelona, dan Norwegia karena semua kaos tersebut mengandung unsur salib. "Tidak ada alasan apapun yang bisa digunakan untuk memakai pakaian seperti itu, karena itu berarti, sebagai seorang muslim, kalian mengidolakan simbol agama lain," kata Datuk Nooh Gadot, Mufti Johor, seperti dikutip dari laman Telegraph, Senin (20/7). "Dalam urusan ini, tidak ada yang bisa dikompromikan dengan alasan untuk hiburan, fashion, atau bahkan olahraga," tegas Nooh. Keputusan tersebut langsung memicu reaksi keras penduduk Malaysia yang tergolong sebagai pendukung fanatik MU. Malaysia merupakan negara dengan penduduk 28 juta jiwa yang 60 persen diantaranya adalah muslim. Beberapa kali, negara yang dipimpin PM Najib Razak tersebut memunculkan kontroversi akibat larangan yang dianggap terlalu berlebihan. Salah satunya adalah pelarangan olahraga yoga untuk umat islam disana. (any/kim) |