Kamis, 09 September 2010
Tersudut di Depan Kongres

British Petroleum Membela Diri


NEW ORLEANS - Citra British Petroleum (BP) di mata publik semakin anjlok. Kamis lalu (17/6), CEO BP Tony Hayward gagal memuaskan Kongres Amerika Serikat (AS) dengan kesaksiannya soal krisis lingkungan di Teluk Meksiko. Kemarin (18/6), muncul laporan baru bahwa minyak BP yang mencapai pantai Louisiana mengandung metana.

 

 

Sesi tanya jawab Hayward dengan anggota Kongres berlangsung seru. Terus disudutkan dan disalahkan karena dianggap ceroboh, orang nomor satu BP itu pun membela diri. ”Saya rasa, kita masih sangat jauh dari keputusan. Dan, saya tidak bisa memberikan keterangan detail terkait keputusan-keputusan yang sudah diambil (BP) di masa lampau,” kata pria 53 tahun itu, seperti dikutip Agence France-Presse kemarin.

Dalam kesempatan itu, Hayward juga mengatakan bahwa sebagai pemimpin tertinggi perusahaan minyak Inggris itu, dia tidak banyak terlibat dalam kebijakan teknis. ”Saya tidak terlibat dalam keputusan soal teknis mengebor, uji coba atau pengamanan sumur minyak,” ungkap pebisnis kelahiran England yang memimpin BP sejak 1 Mei 2007.

Karena itu, dia mengimbau kepada seluruh anggota Kongres AS untuk bersabar dan menunggu investigasi BP berakhir. Selain investigasi independen pemerintahan Obama, BP juga melakukan penyelidikan internal terkait insiden 20 April lalu. Ketika itu, anjungan lepas pantai Deepwater Horizon yang disewa BP meledak dan menewaskan 11 pekerjanya. Sehari kemudian, anjungan itu tenggelam dan minyak bumi yang terkandung di dalamnya mencemari Teluk Meksiko.

Hayward yang dijuluki media AS sebagai pria paling dibenci publik Negeri Paman Sam itu juga minta maaf di hadapan Kongres atas tragedi lingkungan terbesar itu. ”Saya sadar, bahwa hanya aksi dan hasil nyata--bukan kata-kata--yang bisa membuat Anda semua puas. Sebagai pimpinan BP, saya berjanji untuk tidak berhenti mengupayakan pemulihan sampai semuanya kembali normal,” tandasnya.

Sayangnya, janji Hayward itu diikuti dengan laporan yang tidak menguntungkan BP. Kemarin, laporan terbaru dari para aktivis lingkungan menyatakan bahwa minyak mentah yang menutup permukaan sebagian besar perairan Teluk Meksiko mengandung metana. Gas beracun yang tidak berwarna itu sangat berbahaya bagi lingkungan. Sebab, metana bisa mengikat oksigen dalam air.

”Kandungan metana dalam sample minyak yang kami ambil dari sumur BP mencapai 40 persen. Padahal, biasanya, kandungan metana dalam minyak bumi hanya sekitar 5 persen,” terang John Kessler, oceanographer pada Texas A&M University, dalam wawancara dengan Associated Press. Tingginya kandungan metana dalam minyak BP itu, lanjut dia, berdampak buruk pada lingkungan yang tercemar.

Menurut Kessler, dalam waktu singkat, akan terbentuk zona-zona mematikan di kawasan Teluk Meksiko akibat metana dari minyak BP. Konon, di zona-zona mematikan itu, tidak akan ada makhluk hidup yang bisa bertahan. Sebab, kandungan oksigen di sana sangat minimal. ”Ini akan menjadi pencemaran metana paling mematikan dalam sepanjang sejarah peradaban manusia modern,” terangnya. (hep/dos/jpnn)

 

 

 
Banner
Copyright © 2008 PT. Yogyakarta Intermedia Pers. All rights reserved.