|
[Selasa, 13 Oktober 2009] MEXICO CITY – Pemerintahan Presiden Felipe Calderon mengambil keputusan penting bagi rakyat Meksiko, terutama serikat pekerja listrik, Minggu lalu (11/10). Berdalih menghemat pengeluaran negara USD 1,5 miliar (sekitar Rp 14,2 triliun), pemerintah Meksiko menutup perusahaan pembangkit listrik negara.
Keputusan tersebut langsung memantik amarah Serikat Pekerja Listrik Meksiko (SME). Mereka mengadakan unjuk rasa untuk memprotes kebijakan pemerintah menonaktifkan pembangkit Luz y Fuerza del Centro yang menyuplai kebutuhan listrik di kawasan tengah negeri itu. ”Atas nama 44.000 pekerja aktif dan sekitar 20.000 pensiunan, kami akan segera menanggapi kebijakan ini,” ujar juru bicara SME kemarin (12/10). Untuk meredam aksi ribuan anggota SME yang berunjuk rasa di depan kementerian tenaga kerja, pemerintah menawarkan kompensasi. ”Pemerintah bersedia membayarkan kompensasi yang jumlahnya setara dengan gaji para pekerja selama dua setengah tahun. Syaratnya, mereka bersedia menerima keputusan pemerintah itu dalam waktu satu bulan,” papar Menteri Tenaga Kerja Javier Lozano, seperti dikutip Agence France-Presse. Sayang, tawaran itu ditanggapi dingin delegasi SME yang dipimpin Fernando Gomez Mont. Mereka sempat berdialog dengan para pejabat kementerian tenaga kerja di sela unjuk rasa. Tapi, beberapa waktu kemudian, mereka meninggalkan kementerian tersebut tanpa kesepakatan apa pun. Ketua SME Martin Esparza tetap menuntut pemerintah mencabut keputusan yang dipublikasikan Minggu (11/10) itu. Selain itu, Esparza mendesak pemerintah menarik mundur seluruh personel militer yang dikerahkan ke fasilitas pembangkit listrik tersebut. ”Solusi paling baik bagi masalah yang tidak kami timbulkan ini adalah tetap mempertahankan sumber penghasilan kami,” tegasnya seperti dilansir Associated Press. Hingga kemarin (12/10), aliran listrik kepada seluruh pelanggan di Meksiko masih tetap stabil. (hep/ttg) |