|
[Kamis, 23 Juli 2009] MUMBAI – Satu-satunya pelaku bom Mumbai yang selamat, Mohammed Ajmal Kasab, kembali menjalani sidang di India Senin lalu (20/7). Jika selama ini dia mengingkari 86 dakwaan, awal pekan ini tidak lagi. Pemuda 22 tahun itu mengaku bersalah dalam serangan bom bunuh diri yang menewaskan 166 orang tersebut.
Perubahan drastis itu membuat hakim dan tim kuasa hukumnya terkejut. Apalagi, Kasab melengkapi berkas pengakuannya dengan kronologi serangan dan detail perekrutan penyerang. Saat Hakim M.L. Thaliyani menanyai apakah lebih memilih dihukum Tuhan atau dunia, dia malah terkesan menantang. ”Lanjutkan saja dan gantung saya jika memang itu hukumannya,” ujar Kasab seperti dilaporkan Agence France-Presse kemarin (22/7). Sejauh ini, pengadilan masih mempertimbangkan pengakuan pelaku pengeboman berkewarganegaraan Pakistan tersebut. Mereka belum memutuskan bakal menerima atau menolak pengakuan bersalah Kasab. Selasa lalu (21/7), salinan berkas pengakuan bersalah itu dikirim ke Pengadilan Rawalpindi, Pakistan, untuk diproses lebih lanjut. Jika pengakuannya diterima dan terbukti bersalah, Kasab terancam hukuman mati. Di Pengadilan Rawalpindi, sidang kasus bom Mumbai dengan lima terdakwa juga sedang berjalan. Berbeda dengan Kasab, lima terdakwa yang semuanya warga Pakistan itu bersikukuh mengaku tidak bersalah. ”Tapi, dalam berkas pengakuannya, Kasab mengatakan bahwa Zaki-ur-Rehman Lakhvi yang saat ini menjalani sidang di Rawalpindi menyaksikan dia dan sembilan pelaku lainnya beraksi,” terang The Press Trust of India. Sejak tertangkap pada Desember tahun lalu, Kasab menjalani proses awal hukumnya di India. Sebab, meski mengaku berasal dari Pakistan, Islamabad mengingkari kewarganegaraan Kasab. Baru Januari lalu, pemerintah Pakistan mengonfirmasi bahwa Kasab sebagai warganya. Tapi, sampai saat ini proses hukum Kasab masih terus berjalan di India. Konon, India bakal segera melimpahkan kasus hukum tersebut kepada Pakistan. ”Tiba-tiba, klien saya, Ajmal Kasab, mengaku bersalah dan memberikan keterangan lengkap dalam sidang. Jujur, (pengakuan) ini cukup menyulitkan saya,” papar pengacara Kasab, Abbas Kazmi, seperti dikutip Associated Press Selasa (21/7). Selama ini, dia mengaku sulit berkomunikasi dengan Kasab. Pemerintah India, menurut Abbas Kazmi, tidak memberikan cukup akses baginya untuk menyusun berkas pembelaan ++++++12.000 halaman. ”Saya tidak mendapatkan informasi yang saya butuhkan dari klien saya. Sebab, kami tidak bisa bertemu setiap hari. Setiap kali pertemuan pun hanya berkisar 10 sampai 12 menit,” ujarnya. Konon, pemerintah India tidak mengizinkan Kasab membaca koran atau menonton televisi di penjara. Pembatasan tersebut, menurut Kazmi, membuat Kasab frustrasi dan tertekan. Dalam tragedi Mumbai, kelompok teroris yang mengklaim diri sebagai Deccan Mujahideen itu menarget dua hotel mewah Mumbai, Taj Mahal Palace and Tower dan Oberoi Trident. Selain dua hotel bintang lima yang menjadi langganan tamu asing tersebut, kelompok teror itu juga menyarangkan serangan di stasiun kereta api Chhatrapati Shivaji. Sasaran lainnya adalah sebuah restoran yang cukup terkenal, sebuah pusat studi Yahudi, dan lima lokasi lain. (hep/ami) |