Berita Hari Ini
|
...
|
 ...
|
 ...
|
 ...
|
|
...
|
|
...
|
 ...
|
 ...
|
|
...
|
 ...
|
 ...
|
|
|
|
|
[18 Juli 2009] TOKYO – Perdana Menteri (PM) Jepang Taro Aso bisa sedikit tersenyum. Upaya sejumlah politisi partai yang dipimpinnya, Partai Demokratik Liberal (LDP), untuk menyudahi kepemimpinannya sebelum masa jabatan berakhir, gagal. Meski sempat mendapatkan banyak dukungan dari anggota parlemen LDP, belakangan sebagian menarik diri.
”Sudah dipastikan, tidak sampai 128 anggota parlemen LDP yang meneken petisi kami,” kata Masatoshi Wakabayashi, pejabat senior LDP, yang menjabat sebagai ketua komite dewan perencanaan, seperti dilansir Bloomberg kemarin (17/7). Namun, kata dia, pertemuan lengkap anggota majelis rendah dan majelis tinggi tetap akan diselenggarakan pada 21 Juli mendatang. Hanya agendanya saja yang berubah. Semula, pertemuan tersebut diselenggarakan untuk menentukan masa depan kepemimpinan Aso. Tapi, dengan batalnya petisi yang digagas mantan Sekjen LDP Hidenao Nakagawa tersebut, agenda pertemuan mendatang adalah taktik memenangkan pemilu. ”Dalam pertemuan itu, Aso diberi kesempatan mendengarkan opini para politisi LDP sebelum membubarkan majelis rendah,” papar Menteri Keuangan Kaoru Yosano. Di samping mendengarkan opini dari internal partainya, Aso juga diminta memaparkan visi misinya untuk LDP menjelang pemilu nasional. ”Dalam pertemuan tanpa voting nanti, Aso diharapkan bisa menawarkan solusi dan kebijakan barunya demi memenangkan pemilu 30 Agustus nanti,” terang Sekjen LDP Hiroyuki Hosoda seperti dikutip Agence France-Presse kemarin (17/7). ”Anggota partai punya beragam opini terkait serangkaian kejadian tidak menguntungkan yang menimpa LDP. Forum ini akan menjadi sarana bagi partai untuk menyuarakan pendapat mereka,” lanjut Hosoda. Dia berharap, pertemuan 21 Juli nanti mampu mempersatukan partai penguasa yang belakangan semakin terbelah tersebut. Kemarin, Yosano yang Kamis (16/7) lalu mencantumkan tanda-tangannya pada petisi Nakagawa, mencabut kembali dukungannya. Langkah yang sama juga diambil Menteri Agrikultur, Kehutanan, dan Perikanan Shigeru Ishiba. Selain mereka berdua, beberapa pejabat LDP lainnya juga mencabut dukungan mereka pada petisi Nakagawa. Karena itu, jumlah pendukungnya menyusut menjadi kurang dari 128 orang. Karena itu, Yosano menyambut baik pertemuan tanpa voting yang akan membahas strategi pemenangan LDP dalam pemilu nasional tersebut. ”Kebijakan yang bagus. Parlemen akan lebih dulu melewati suatu proses yang sangat penting sebelum dibubarkan,” ujarnya di hadapan media. Rabu (15/7) lalu, Yosano disebut-sebut menemui Aso untuk meminta PM mengundurkan diri secara terhormat. Tapi, dia membantah kabar tersebut. Rencananya, Aso akan membubarkan parlemen Selasa (21/7) sore nanti selepas pertemuan tanpa voting. Kepada media Jepang, tokoh 68 tahun yang popularitasnya terus merosot itu menekankan pentingnya menghadapi resesi. ”Dalam waktu tiga tahun, kita sudah harus bisa kembali ke kondisi (perekonomian) normal. Karena itu, saya mengimbau kabinet untuk tetap fokus pada strategi-strategi penanggulangan krisis,” katanya. Berdasar hukum yang berlaku di Jepang, partai penguasa harus menyelenggarakan rapat akbar untuk memilih pemimpin baru jika sepertiga anggotanya di parlemen meminta. Sayangnya, petisi Nakagawa itu tidak sampai didukung 128 orang. Saat ini, jumlah anggota parlemen yang berasal dari LDP, baik di majelis rendah maupun di majelis tinggi, mencapai 384 orang. Sebelum Yosada dan rekan-rekannya mencabut dukungan, petisi Nakagawa itu disebut-sebut sudah mendapatkan 133 tanda-tangan politisi. Aso yang baru dilantik September lalu adalah PM ketiga Jepang setelah Junichiro Koizumi mengundurkan diri pada 2006. Meski belum genap setahun menjadi kepala pemerintahan Negeri Sakura, mantan pedagang berlian itu sudah berkali-kali didesak mundur. Selain karena skandal menteri-menteri kabinetnya, kepemimpinan Aso juga diguncang kegagalan partai dalam pemilu lokal dan belitan krisis finansial global. Minggu (12/7) lalu, LDP kalah lagi dalam pemilu lokal di Tokyo. (hep/ttg)
|
|
|